Bliss cafe, Bedford Avenue, Brooklyn  Entah mengapa, aku selalu pusing ketika berada di Manhattan. Hari ini aku sebenarnya ingin bekerja di New York Public Library di Bryant Park tapi tiba-tiba aku berubah pikiran. Kepalaku pusing. Mungkin karena belum minum kopi. Tapi sungguh menyebalkan membayangkan bekerja di Manhattan dengan segala hiruk-pikuknya. Mungkin karena selama dua hari kemaren, hidupku benar-benar melelahkan. Bergerak ke sana-kemari seperti setrikaan. I didn't particularly enjoy it.
Hari ini, saat ini aku berada di Brooklyn. Bedford Avenue. Tiba-tiba saja aku tadi ingin ke Brooklyn. Aku tidak bisa membayangkan tempat lain selain Brooklyn. Lalu aku turun dari kereta F di jalan 14 dan pindah ke kereta L. Dan kini aku berada di sebuah kafe bercat hijau, dengan bau tempe dan tahu dari dapur, dengan pemandangan orang-orang cakep, indah, stylish, dan fashionable di Bedford Avenue. Dan tiba-tiba aku merasa tidak pusing lagi.
Aku berhasil menyelesaikan introduction and artikel dari Siegfriend Kracauer di buku The Mass Ornament. Bukan kebetulan bahwa artikel yang aku baca adalah artikel tentang perjalanan. Dia bilang begini: "The goal of modern travel is not its destination but rather a new place as such. What people seek is less the particular being of a landscape than the foreignness of its face." Sebuah penggambaran yang tepat untuk hari ini.
Aku sudah makan roti isi tahu dan tempe, dan dua cangkir kopi. Dua orang di sebelahku berbicara dengan logat Australia yang kental. Mereka membicarakan Portland, kencan Amerika, pesta, dan teh organik. Salah satu dari mereka bicara soal kunjungan ke pasar seni The Armory Show. Aku ke sana kemaren. Dalam dua hari aku pergi ke dua pasar seni. Satu pasar seni dikhususkan untuk seni video di Chelsea (avenue 12 yang adalah ujung dunia) dan pasar seni modern serta kontemporer di the Armory Show. Pasar seni seni video diselenggarakan di bangunan berbata merah bekas pabrik, dengan jumlah karya video sekitar 50-an buah, dengan jumlah galeri tak lebih dari 20. Pasar seni The Armory Show menghadirkan ratusan galeri dan ratusan karya seni, mulai dari lukisan Picasso, de Kooning, Salvador Dali hingga karya video dan instalasi dari seniman Peru, China, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika sendiri. Acaranya heboh, terutama di pasar seni kontemporer. Karya-karyanya yah...ada yang menarik, kebanyakan ya biasa saja. Karya-karya video yang ikut di the Armory Show cuma sedikit tapi lumayan. Lucu-luculah. Ada karya Nam June Paik, Marina Abramovic, Bill Viola hingga seniman China macam Yang Jeechang. Yang nyebelin sebenarnya karya-karya patung atau pun instalasi. Minimalisme masih saja berjaya. Bukan minimalismenya yang nyebelin, cuma karya-karya yang dipamerkan kok hampir-hampir seragam. Siapa juga yang mau beli?
Sebelumnya, aku pergi ke New Museum untuk nonton triennale "The Ungovernables". Menurutku, kuratorialnya cukup menarik dan lumayan. Tidak semua karya yang dipamerkan bagus, tapi rata-rata cukup menyenangkan. Menurutku, karya dari Indonesia, instalasi dari House of Natural Fiber nggak kalah dari karya-karya lain yang dipamerkan. Selain dari segi craft-nya rapi dan setara dengan karya-karya dari seniman lain (atau malah melebihi), dari segi konsep, karya HONF juga cukup menjanjikan. Good looking. Karya lain yang aku sukai adalah dari Mesir dan dari seniman-seniman Brazil (instalasi audio, video, foto).
Tadinya aku dan temanku berencana langsung ke Whitney biennale tapi kita sudah telat karena hari Minggu, waktu dikurangi satu jam untuk penyesuaian musim semi. Rugi deh. Akhirnya kita nongkrong di East Village (di mana lagi???!). Hari Sabtu sebelumnya, seperti yang aku bilang, aku pergi ke pasar seni video. Karya-karyanya biasa aja tapi aku datang ke forum soal mengkoleksi karya seni video. Percakapannya sangat menarik (walau aku ngantuk dan lelah karena baru nyampe dari Boston). Yang menarik, diskusi ini menghadirkan kolektor video, galeri video, dan seniman video (tentu saja). Pertanyaan tentang bagaimana memberi nilai pada karya video, bagaimana menentukan otentisitas, bagaimana menjaga koleksi seni video, dan bagaimana seniman serta kolektor harus bersikap pada perubahan teknologi yang begitu cepat, menjadi bahan pembicaraan. Orang-orang dari Electronic Arts Intermix, Museum Reina Sofia, MoMa dan institusi-institusi semacam itu datang dan berbicara sehingga memperkaya pembicaraan tentang proses koleksi institusi dan bedanya dengan koleksi pribadi. Setelah itu, aku dan temanku pergi ke Soho untuk datang ke peluncuran buku soal kuratorial dari Hou Hanru di ICI. Aku lihat ada Barbara London (MoMa) dan beberapa orang penting dari dunia seni New York. Kantor ICI kecil tapi bagus banget soalnya di lantai 16 dan kita bisa melihat pemandangan New York dengan jelas. Setelah itu, kita pergi makan di LES, di sebuah restoran Perancis yang sangat mahal yang membuatku merasa miskin seketika. Tempatnya bagus dan makanannya enak tapi aku merasa sedang tidak punya uang jadi merasa cukup sedih:-(. Belum lagi karena kita kemana-mana naik taksi New York yang gilanya nggak kalah sama taksi Jakarta. Setelah itu, kita mau ketemu anak-anak HONF tapi mereka nggak tau kemana. Trus pegawai hotel di Bowery bilang kalo mereka pergi ke Rivington 156. Aku menemukan Venzha lagi nonton konser metal di sebuah ruangan berisi 20-an orang. Jam 6 sore. Selamat datang di New York, kata temanku. Seperti juga Bedford Avenue, New Museum dan the Armory Show penuh dengan orang-orang berbaju bagus. Sesuatu yang agak susah ditemukan di Cambridge yang membosankan (Di Cambridge, pembagiannya adalah orang-orang berbaju mahal dan sebaliknya. Hal ini tidak berlaku untuk mahasiswa desain). Sebenarnya di hari pertama aku cukup merasa sengsara dan pengen segera balik ke Cambridge. Berada di tengah orang-orang (dan terutama cowok-cowok) dengan cashmere rapi itu menyenangkan. Aku merasa terlalu lame untuk jadi orang New York. Mungkin Cambridge telah mengubahku. Yang aku pikirkan adalah membaca buku dan menyelesaikan dua papers untuk midsemester. Tapi hari ini aku berpikir untuk tinggal di New York saja dan menulis papers dari sini. Pikiran begitu cepat berubah seperti juga perasaan. Pengen ketawa:-). Orang gila. Kemaren sebelum berangkat, aku bertekad untuk bekerja (maksudnya: membaca dan menulis paper) di perpustakaan New York atau di Columbia. Tapi aku masih harus bertemu beberapa orang lagi di Lower Manhattan, jadi repot rasanya kalau harus pergi ke Uptown (Columbia). Tapi nggak taulah. Besok mungkin aku sudah berubah pikiran lagi. The boredom of everyday life. Akhirnya yang aku bahas adalah hal-hal yang bersifat permukaan seperti baju, sepatu dan hal-hal bodoh lainnya. Maaf. Malam sebelum berangkat, aku pergi dengan Mr. S ke selatan Boston. Agak jauh dan kita belum pernah ke sana. Keluar dari bubble Harvard. Jalan utamanya besar-besar dengan bangunan-bangunan yang buruk rupa. Kami menonton konser dari band indie Atlanta bernama Atlas Sound. Konsernya agak membosankan jadi kita cuma ketawa-ketawa nggak jelas. Klubnya penuh dengan (kayaknya) anak-anak Universitas Boston. Nggak ada anak-anak Harvard/MIT di sana, kecuali kami yang sok heroik dan sok polos naik kereta sejam dari Cambridge. "Lihat deh, bangunan ini bagus banget ya, " dia bilang. Bangunannya sumpah jelek banget, kaku dan tanpa imajinasi. "Bagus banget untuk mendisiplinkan anak-anak xxxx. Biopower." Sial dan dia masih saja membicarakan Foucault. Gawat nggak sih? Kami bertemu cowok-cowok dari Mumbay, kami melihat sticker norak dengan tulisan macam, "love. Jesus.simple", kami melihat orang-orang biasa yang nggak hidup di kampus macam Harvard, kami melihat orang-orang memakai baju besar-besar dengan grafis-grafis norak macam di Wal Mart. "Gw nggak tau ini di ma na. Tapi kayaknya suburban ya?" Nada suaranya begitu innocent. Saya ketawa. "Kamu jahat ihh." Mungkin orang-orang New York juga memiliki semacam 'American joke' tentang orang-orang kayak kami (yang datang dari Cambridge dan berbaju agak norak). Dan mungkin perasaan-perasaan displacement macam begini yang sedang aku rasakan. Summer nanti anak-anak Anthro harus bikin riset kecil. Dan seperti yang dikatakan temanku kemaren sebelum aku berangkat ke New York, kami sebenarnya takut. Nggak tau harus ngapain. Dia malah membicarakan, nanti musim gugur mau tinggal di mana. Mungkin kita bisa tinggal bareng, cari apartemen yang bagus dengan jendela (apartemen dengan jendela adalah gagasanku). Mungkin kalau kami hidup di zaman Weimar, Kracauer akan menyebut kami tak beda dengan pegawai bayaran yang terasing dan mengalami kekosongan nilai serta makna. Dan dengan begitulah, kami diharap memberi nilai pada hidup banyak orang. Ohhh, kaum intelektual!!
Yang telah dilakukan di 2010:
1. Berusaha tidur lebih awal setidaknya sebelum jam 12 malam
Gagal.
2. Kabur dari Indonesia
Akhir Januari 2010: harus menerima 'kenyataan' untuk pergi dari kota tercinta: New York City
Juli 2010: Ho Chi Minh, kota yang penuh dengan makanan dan bergaya Perancis, mungkin suatu hari aku akan tinggal tiga bulan di sana. [Ngapain? nggak tau]
September 2010: London yang memiliki 10 cuaca dalam sehari. Lalu ke Oxford yang cantik serta Cambridge yang membuatku takut kejatuhan apel Newton dan orang Inggris yang jahat. Perjalanan ini menggenapkan cita-cita mengunjungi tiga museum seni kontemporer dan modern besar dunia, setelah Pompidou, MoMa dan Tate.
Desember 2010: Dubai, semua hal yang mengubah persepsiku tentang Arab. Aku ingin bekerja di Dubai atau Abu Dhabi dengan gaji pounds -tanpa pajak.
3. Mengunjungi Bukittinggi
Gagal.
4. Tidak sakit saat di Jogja
Gagal. Selalu sakit.
5. Lebih bisa ngomong 'nggak'
Berhasil.
6. Punya tabungan
Ada, sedikit.
7. Lebih gampang bahagia
Memang.
8. Lebih bisa merawat tanaman
Awalnya berhasil, tapi lama-kelamaan.....
Keinginan dan cita-cita di 2011:
1. Tinggal di Paris, Perancis, bukan Paris, Texas, minimal sebulan
Ngapain: menundukkan bahasa paling susita di seluruh dunia:) (Setelah putus asa kursus tiga tahun, grammaire nggak bener-bener)
Cara: baik halal, non-halal maupun vegetarian, serta menjadi au pair
Semua gara-gara website ini.
2. Nggak kerja kantoran lagi, dari jam 10-18.00, tapi kaya raya
[bingung, gimana cara ya?]
3. Road-trip Bali, Lombok, Sumbawa, Labuan Baju, Flores sampai Larantuka
[sudah beli tiket one way ke Bali....:)
4. Road-trip USA WestCoast
[tiket coast aja, belum jelas West atau East]
5. Menerbitkan buku film Indonesia
[semoga]
6. Kembali kabur dari Indonesia -for good, yakni sekolah
[sedang aplikasi, semoga alam semesta dan tuhan kaum beriman maupun tidak beriman, mengabulkan]
Yang telah dilakukan di 2010: 1. Berusaha tidur lebih awal setidaknya sebelum jam 12 malam Gagal. 2. Kabur dari Indonesia Akhir Januari 2010: harus menerima 'kenyataan' untuk pergi dari kota tercinta: New York City. Juli 2010: Ho Chi Minh, kota yang penuh dengan makanan dan bergaya Perancis, mungkin suatu hari aku akan tinggal tiga bulan di sana. [Ngapain? nggak tau] September 2010: London yang memiliki 10 cuaca dalam sehari. Lalu ke Oxford yang cantik serta Cambridge yang membuatku takut kejatuhan apel Newton dan orang Inggris yang jahat. Perjalanan ini menggenapkan cita-cita mengunjungi tiga museum seni kontemporer dan modern besar dunia, setelah Pompidou, MoMa dan Tate. Desember 2010: Dubai, semua hal yang mengubah persepsiku tentang Arab. Aku ingin bekerja di Dubai atau Abu Dhabi dengan gaji pounds -tanpa pajak.
3. Mengunjungi Bukittinggi Gagal. 4. Tidak sakit saat di Jogja Gagal. Selalu sakit. 5. Lebih bisa ngomong 'nggak' Berhasil. 6. Punya tabungan Ada, sedikit. 7. Lebih gampang bahagia Memang. 8. Lebih bisa merawat tanaman Awalnya berhasil, tapi lama-kelamaan.....
Keinginan dan cita-cita di 2011: 1. Tinggal di Paris, Perancis, bukan Paris, Texas, minimal sebulan Ngapain: menundukkan bahasa paling susita di seluruh dunia:) (Setelah putus asa kursus tiga tahun, grammaire nggak bener-bener) Cara: baik halal, non-halal maupun vegetarian, serta menjadi au pair
2. Nggak kerja kantoran lagi, dari jam 10-18.00, tapi kaya raya [bingung, gimana cara ya?]
3. Road-trip Bali, Lombok, Sumbawa, Labuan Bajo, Flores sampai Larantuka [sudah beli tiket one way ke Bali....:)
4. Road-trip USA WestCoast [tiket coast aja, belum jelas West atau East]
5. Menerbitkan buku film Indonesia [semoga] 6. Kembali kabur dari Indonesia -for good, yakni sekolah [sedang aplikasi, semoga alam semesta dan Tuhan kaum beriman maupun tidak beriman, mengabulkan]
7. Membaca lebih banyak buku (and stop those fucking social network sites!)
| Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Sebagaimana tercantum di detikhot.
Apabila Festival Film Indonesia memiliki kategori penghargaan untuk film dengan adegan tangisan paling banyak, mungkin film ini juaranya. Film 'Dalam Mihrab Cinta' disutradarai oleh Habiburrahman El Shirazy, seorang penulis sukses yang karyanya, 'Ketika Cinta Bertasbih' menjadi satu-satunya film dengan setting Mesir asli –yang lainnya palsu. Sebagai film drama relijius, film ini mengetengahkan cerita pertobatan atau keinsyafan yang dipenuhi adegan mengharu-biru sehingga setiap sepuluh menit sekali karakter-karakter dalam film ini menangis –dengan berbagai sebab.
Tangisan pertama datang dari seorang gadis berjilbab bernama Zizi –entah mengapa setiap gadis berjilbab dalam film Indonesia selalu suka menangis. Tangisan kedua datang dari Syamsul Hadi, protagonis film ini, yang dipukuli teman-teman pesantrennya karena dianggap mencuri. Tangisan ketiga berasal dari ibu Syamsul dan Nadia, adik Syamsul yang mengetahui Syamsul ‘mencuri’ di pesantren. Tangisan keempat dan selanjutnya tentu saja melibatkan Syamsul dan para perempuan muslim yang dalam film ini cukup mendapat tempat dominan.
Namun, adegan tangis-menangis dan pertobatan tidaklah sah tanpa sebuah cerita yang memungkinkan kemungkaran didefinisikan, dan amar ma'ruf ditegakkan. Syamsul (Dude Harlino) pemuda 20 tahunan yang berasal dari Pekalongan pergi menuntut ilmu di pesantren Al Furqon di Kediri. Dalam perjalanan, ia menolong seorang gadis berjilbab bernama Zizi dari usaha perampasan. Zizi adalah putri pemilik pesantren tempat Syamsul belajar. Ironisnya, di pesantren Al Furqon, Syamsul terusir karena dituduh mencuri akibat fitnah sahabatnya sendiri, Burhan.
Orang tua Syamsul kecewa. Ia pun dianiaya oleh kakak dan ayahnya sendiri. Karena keluarganya tak lagi percaya, Syamsul pun kabur dari rumah dan menjadi pencopet. Dalam sebuah aksinya, secara tak sengaja ia mencopet seorang gadis solehah bernama Sylvie, yang kebetulan pacar Burhan. Padahal, Burhan juga mengincar Zizi. Dengan motivasi untuk membalas dendam pada Burhan, Syamsul berusaha menemukan Sylvie. Namun berkat berbagai peristiwa dan terutama berkat hidayah Allah, Syamsul akhirnya bertobat dan berubah menjadi ustad yang sangat terkenal.
Seperti narasi film-film pertobatan/keinsyafan pada umumnya, tentu saja Burhan sang penjahat bengis akan dihukum seberat-beratnya. Tapi, cerita belum berakhir karena Syamsul harus memilih dua perempuan solehah yang sama-sama menginginkannya. Sylvie yang mencampakkan Burhan dalam sebuah adegan yang akan cukup membuat marah para aktivis perempuan, berbalik membenci Burhan dan memilih Syamsul. Zizi yang selalu bersama keluarga Syamsul diam-diam jatuh cinta pada Syamsul. Alhamdulillah, Syamsul mendapatkan jalan untuk menghindari kemungkaran poligami. Pesan akhir film ini adalah jangan menelepon sambil menyetir kalau Anda tidak mau mati sia-sia.
Dibandingkan film-film horor dan seksploitasi yang menutup 2010 ini, 'Dalam Mihrab Cinta' bisa dibilang masih sedikit lebih baik meskipun jalinan cerita dan terutama akting para pemain akan selalu mengingatkan kita pada drama-drama relijius di televisi. Penempatan Dude Harlino dan Asmirandah –keduanya pemain sinetron- semakin menguatkan kesan ini, selain karena terdapatnya banyak adegan monolog yang menjadi piranti estetik utama sinetron-sinetron masa kini. Tapi, apa makna membanjirnya film-film dengan pesan menggurui dan Islami seperti ini? Apakah film (dan pembuat film) ini berusaha menyajikan gambaran Islam yang berbeda dari film-film sejenis? Apakah film-film ini berkehendak untuk menjadi alat dakwah bagi orang Indonesia yang nyata-nyata sudah Islam? Ataukah ini hanya trik lama Sinemart yang merasa berhasil dengan film macam 'Ketika Cinta Bertasbih'?
Saya baru pulang dari sebuah negeri di jazirah Arab untuk melihat film-film berhasa Arab. Tak satu pun dari film-film yang saya tonton mengetengahkan dialog karakter yang didahului dengan kata-kata “Insya Allah”, “Subhanallah”, atau pun kata-kata yang dianggap Islam lainnya. Tak satu pun saya lihat adegan orang salat. Tak juga, narasi pertobatan/keinsyafan menjadi tema cerita. Kalau seperti ini, mana yang lebih Islam, yang lebih Arab --negeri-negeri yang benar-benar berada di jazirah Arab atau Indonesia?
 | BlackOut | Dec 22, '10 10:44 AM for everyone |
Hari ini aku berjalan-jalan, menyusuri trotoar-trotoar yang gemilang oleh cahaya-cahaya lampu. Aku baru kembali dari sebuah perjalanan. Keempat di tahun ini. Aku seperti mau pingsan. Aku ingin pingsan, tapi aku mencegat taksi. Dan aku lemas sendiri, melihat udara di luar gelap, di balik kaca-kaca taksi.
Aku baru bertemu seseorang. Fellow Guggenheim. Aku sedang sendiri, melihat layar komputer bergerak-gerak. Udara dingin sekali, dan aku ingin pulang segera. Aku mencoba memikirkannya, mengisi hatiku yang kosong bagai terowongan Chile. Aku memikirkan orang lain. Aku melihat foto-fotonya saat di Ho Chi Minh. Dia akan datang. Aku senang.
Selama beberapa hari terakhir ini, saya banyak bertemu produser dan orang-orang bisnis dari dunia film. Pertemuan ini bukanlah hal yang cukup baru, namun mengingat beberapa perkembangan baru yang terjadi di dunia film Indonesia yang selalu seperti/tampak mau sekarat ini, ada baiknya saya menulis beberapa hal yang cukup penting untuk dibagi. Wrap up dari Acara Workshop Film Financing+Media Mundus yang diselenggarakan Uni Eropa/Europe on Screen, 10 November 2010. Lokakarya ini menghadirkan seorang pembicara dari Media Mundus, Uni Eropa, Christophe Forax. Media Mundus adalah sebuah program/mekanisme baru di Uni Eropa yang bertujuan mendorong kerjasama distribusi, market access, training dan beberapa hal lain antara pembuat film Eropa dan negara-negara dunia ketiga. Dalam presentasinya yang sedikit membosankan, ia menggambarkan bahwa bisnis media dunia saat ini (hingga 2010, media menyangkut film, televisi dan internet) terbagi atas empat market share besar. Amerika Utara dan Eropa masing-masing memiliki market share 34%, Asia Pacific 27 %, Amerika Latin sekitar 7-10%, dan sisanya dibagi antara Afrika, Arab, dan lain-lain. Industri audiovisual di Eropa menghasilkan revenue hingga 150 milyar Euro/tahun, dan 70%-nya berasal dari industri televisi. Hingga tahun 2010, ada 7200 saluran televisi di Eropa, 245-nya didirikan pada tahun 2009. Internet juga menyediakan layanan baru IPTV (Internet Protocal TV) yang pada tahun 2009 telah memiliki 11 juta pelanggan. Sementara televisi digital telah beroperasi di 24 negara dengan 730 saluran. Perkembangan ini akan diikuti oleh digitalisasi televisi di hampir seluruh benua Eropa dengan target paling lambat tahun 2012. Dengan perkembangan seperti ini, sejak tahun 1989 Eropa telah mengeluarkan berbagai mekanisme hukum audiovisual, terutama regulasi untuk televisi yang berpengaruh pada orang banyak. Regulasi itu menyangkut kebebasan berekspresi bagi pembuat film/program, perlindungan pada anak-anak, penjaminan martabat manusia, peraturan mengenai iklan rokok dan alkohol, serta iklan makanan yang menggemukkan. Contoh aturan bisnis audiovisual di Eropa antara lain, jumlah waktu iklan yang tidak boleh melampui 12 menit/1 jam, dengan jeda minimum 30 menit untuk iklan. Product placement boleh dilakukan di televisi, TV, dan berbagai program, kecuali untuk program/film anak-anak. Untuk film sendiri, Eropa memproduksi sekitar 1100 judul film pertahun, dengan market share di Eropa sendiri 27% pada tahun 2009 (sisanya Hollywood dan film-film lain, jauh lebih kecil dari film Indonesia). Eropa memiliki jumlah bioskop digital 4700 yang hanya 13% dari total bioskop di Eropa. Karena memiliki ambisi untuk ‘melawan’ Hollywood, Eropa memberikan dukungan kepada sinema nasional masing-masing negara hingga 2 milyar Euro. Wrap up dari Acara Balinale-JiFFest Industry Forum yang diselenggarakan di pagi buta, Jumat, 19 November 2010 bersama orang-orang studio Hollywood Matt Cheetam mewakili MPA (The Motion Picture Association, atau yang dulu disebut MPAA) yang mewakili kepentingan enam studio besar Hollywood, yakni Walt Disney Motion Pictures Group, Paramount Pictures, Sony Pictures, 20th Century Fox, Universal Studio dan Warner Brothers. MPA ini merupakan asosiasi yang bertujuan memperluas distribusi film-film produk dari enam studio ini terutama industri internasional. HIngga saat ini, Hollywood masih merupakan pemegang market share film terbesar di dunia, meski di India, Hollywood hanya mendapat 5% dari total market share. Apa yang membedakan Hollywood dan Bollywood, tanya Matt. Produk film-film Hollywood berkelana (travel) dan diterima oleh berbagai tingkat demografi pasar (etnis, usia, kelas sosial dan lain-lain), sementara Bollywood hanya menyasar demografi tertentu (India, baik domestik maupun diaspora). Brett Hogg dari Sony-Disney yang merupakan joint-venture antara Sony dan Disney menangani khusus soal marketing dan distribusi film-film mereka di Asia. Why Hollywood film travels internationally? Karena story. Menurutnya, film di luar kategori apapun adalah cara seseorang untuk bercerita (storytelling), jadi yang terpenting dari sebuah produk film adala CERITA (STORY). Film adalah satu (dan hanya SATU KALI) kesempatan untuk membuat cerita menjadi sesuatu yang benar-benar terjadi. Jadi, good film is good product (Warholian agaknya). Kuncinya, pertama cerita yang bisa membuat orang terhubung, dan kedua genre. Menurut Hogg, pasar Indonesia adalah pasar film yang sangat besar dan potensial. Meski tingkat pembajakan masih 90%, pasar film dan televisi di Indonesia merupakan yang paling cepat tumbuh di Asia Pasific. Namun pasar ini terutama berpaku pada bioskop (theatrical release) sementara sales dari televisi dan DVD belum bisa diharapkan. Jadi bisnis film di Indonesia BENAR-BENAR terpaku pada theatrical release. Once you fail, you fail. Selain Hollywood, produser film mana lagi yang berambisi membuat film melampaui batasan demografinya? Industri film Korea (Selatan). Namun industri film Korea sangat tergantung pada eksploitasi genre, terutama genre horor sehingga market terbesarnya masih berfokus di Asia, bukan Eropa dan Amerika. (Dia berkata bahwa industri film Korea itu sangat genre-based sehingga yang terjadi adalah genre-exploitation to death!!). Studio-studio Hollywood juga masih mengandalkan market domestik Amerika, sepuluh tahun yang lalu. Namun pertumbuhan bioskop dan penonton di Amerika bisa dibilang flat/datar dan tidak pernah tumbuh melebihi satu digit (ilustrasi: sepuluh tahun yang lalu, jumlah layar di AS hampir 10,000 kini hanya sekitar 4,000 layar). Sekarang ini, pertumbuhan/tetap kuatnya bisnis film di Amerika terutama didorong/berpaku pada teknologi 3D (film 3D macam Avatar). Oleh karena itu, Hollywood mencari pasar internasional, dengan mencoba memperhatikan sensitivitas sosial dan kebudayaan internasional. Contohnya film Eat Pray Love (EPL) yang mengambil lokasi di Bali. Ada beberapa cara yang ditempuh oleh Hollywood untuk menggapai market internasional ini, mulai dari cerita, lokasi, cast dan sebagainya. Piranti-piranti ini bisa jadi marketing tools. Film EPL mencatat angka box-office 80,5 juta USD (domestik Amerika), namun 118,7juta USD (internasional), dengan pendapatan dari Indonesia mencapai 1,5 juta USD. Pasar Indonesia sendiri adalah pasar yang action-adventure driven market, artinya penontonnya lebih suka menonton film-film action dan adventure. HIngga saat ini market share Indonesia terbagi antara 50% film impor dan 50% film lokal, dengan pasar film domestik yang sangat kuat. Namun, buruknya, film-film lokal masih memiliki nilai produksi (production value) yang sangat rendah. Situasi ini sangat berbeda dengan Australia, misalnya. Film lokal Australia hanya menguasai 6% dari total market share, 90% dimiliki Hollywood, sementara 4% lainnya adalah berbagai film impor dari Asia dan Eropa. Jadi dalam hal ini, pasar Indonesia jauh lebih baik. Namun cerita lagi-lagi jadi persoalan. Dengan production value yang rendah, cerita film Indonesia juga sangat kolokial, sulit dipasarkan secara internasional. Satu-satunya cara untuk mengembangkan industri dan pasar Indonesia, menurut Hogg adalah memprioritaskan domestic market (baru Asia kemudian internasional) dan yang kedua, harus ada keanekaragaman genre (tentu didukung oleh CERITA yang kuat). Dua kunci: cerita dan genre merupakan cara yang paling murah untuk mendapatkan pendapatan yang luar biasa dari pasar Indonesia. Find la nouvelle, filmmaker!! The key is always A GOOD STORY. Kita bisa melihat betapa besarnya pasar film Indonesia dari contoh kasus film 2012, yang mencatat box-office terbesar dalam sejarah film Hollywood di Indonesia. Secara internasional, film ini berhasil mengumpulkan 166 juta USD, dengan pendapatan dari Indonesia 6,6 juta USD. Film milik studio Sony-Columbia ini mengeluarkan 3 juta USD untuk promosi/advertising. Selain sebagai pasar yang besar, Indonesia sebenarnya juga memiliki tempat yang bagus (untuk lokasi) dan cerita yang bagus. Total pertumbuhan pendapatan film Hollywood di Indonesia selama 3 tahun terakhir mencapai 38%!!! Meski jumlah bioskop menurun, tapi penonton tumbuh yang membuktikan bahwa bioskop-bioskop ini berkonsolidasi for good reason. Audience are there. Dalam hal ini, pertumbuhan di Indonesia merupakan kedua terbesar di Asia Pacific di bawah Malaysia yang tumbuh 53%. Pertumbuhan Malaysia ini, however, didukung oleh pertumbuhan infrastruktur, bukan oleh membesarnya pasar. Mereka memiliki enam eksebitor (jaringan bioskop) yang berfokus di kota-kota kecil. Di sesi berikutnya, Kurt Rieder dari Artisan Gateway, sebuah biro riset dan konsultasi bisnis film mengatakan bahwa ada lima kunci keberhasilan industri film, yakni: 1. Talent (pembuat film, cast, dll), 2. Money (investment/film financing), 3. Ability/skill, 4. Facility (domestic facility), ex. Post-production facility), 5. Distribution. So untuk kasus Indonesia, hal-hal ini perlu diperbaiki. Ia mengatakan bahwa perluasan pasar film di Indonesia (yang sangat potensial) bisa dilakukan dengan distribusi digital karena hanya dengan cara inilah, kota-kota kecil dan market yang potensial itu bisa tergarap (selain memperkecil peran pemerintah!). Selain itu, Alvin Lee dari Time Warner menambahkan bahwa education is where the investment should be put the most. Karena dalam pandangan Alvin Lee, selain film, bisnis TV di Indonesia merupakan the most robust TV growth in Asia. So Indonesia has to come with new model of film/audiovisual business.Indonesia bisa mencontoh India yang memiliki distributor film digital, dengan spesifikasi 1,2K (total bioskop: 2500) yang membutuhkan investasi yang cukup kecil. Inilah the new business model yang cocok untuk masa depan karena bisa dilakukan di kota-kota kecil, bisa bersifat simultaneous, and make government stay out of the way.
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Dalam film ke-12-nya di tahun 2010, Nayato Fio Nuala ingin membuktikan bahwa menjadi remaja di Indonesia sama malangnya dengan membuat film dengan teknologi HDV (high definition video) murahan. 'Heart 2 Heart' bermaksud menguras air mata para penontonnya dengan cinta yang kandas, sakit parah yang tak tersembuhkan, peristiwa tabrak lari, dan keluarga tak berguna yang tak lain dan tak bukan adalah gambaran keluarga kelas menengah Indonesia. Pandu, seorang remaja berumur 16 tahun, secara tak sengaja bertemu Indah di sebuah danau yang indah. Setelah pertemuan tak terencana itu, Pandu dan Indah sering pergi berdua, bersepeda, menyusuri keindahan perkebunan teh di sekitar villa tempat berlibur Indah. Pandu sendiri tinggal bersama orang tuanya di sekitar villa.
Kebersamaan Pandu dan Indah terus terbawa dalam hati masing-masing hingga keduanya berada di Jakarta. Pandu dengan keyakinannya yang agak kekanak-kanakan percaya bahwa apabila jodoh mereka akan bertemu kembali. Seperti yang telah diduga, Indah akhirnya bertemu lagi dengan Pandu. Mereka belajar di sekolah yang sama. Namun tentu saja, selalu ada penghalang di luar kendali mereka. Orangtua Indah telah menjodohkannya dengan seorang cowok kaya, bernama Ramon.
Suatu hari, sebuah kecelakaan merenggut penglihatan dan kemampuan bicara Indah. Marah pada kenyataan dan orangtuanya, ia memilih kembali ke villa tempat keluarganya biasa berlibur. Saat itulah, Pandu kembali muncul. Pandu melepaskan sekolahnya di Jakarta untuk kembali ke desa, menyusul Indah yang menghabiskan kesendiriannya di villa. Pandu tak membiarkan Indah sendiri, meski Indah sempat menolaknya. Bersama-sama, Pandu dan seorang sahabat mencoba mengembalikan keceriaan Indah. Dan, di situlah, di tempat awal mereka bertemu, Indah dan Pandu kembali bersatu. Untuk kemudian perpisah. Lagi.
Sebagaimana hukum tragedi, karakter dalam film-film ini berjuang untuk hanya mengerti bahwa pada akhirnya, hidup tidak memberi banyak pilihan untuk manusia. Banyak hal terjadi di luar kendali remaja-remaja belasan tahun itu. Mengikuti lakunya film-film melodrama percintaan macam ‘Heart’ (2006), ‘Love is Cinta’ (2007) atau ‘Satu Jam Saja’ (2010), film ini tidak mengandalkan banyak peristiwa penting. Malah, segala sesuatu dibuat terlalu berlebihan, mulai dari dialog, musik, setting hingga tata kamera yang --seperti film-film Nayato pada umumnya-- mencoba memainkan fokus/lensa, dengan harapan terlihat surreal.
Hasilnya, film ini tak berbeda dengan film-film Nayato sebelumnya, dan film-film drama kontemporer pada umumnya, yang tidak berangkat dari cerita dan skenario yang kuat, dengan eksekusi dan kualitas produksi yang begitu-begitu saja. Pada banyak bagian, musik, tata suara, tata kamera dan penyutradaraan yang sangat sembarangan sudah sampai pada tahap mengerikan. Bukan hanya penampilan Aliff Alli (sebagai Pandu) dengan wajah tak bersalahnya telah menimbulkan belas kasihan, film ini secara keseluruhan menggambarkan betapa sedih dan kosongnya hati remaja-remaja Indonesia pada 2010 ini.
Dengan pemandangan alam yang begitu permai dan rumah dengan piranti-piranti modern, remaja-remaja ini kehilangan daya untuk berkomunikasi, untuk merasa dekat dengan orang lain. Kekosongan hati para remaja ini serasa begitu lengkap dengan panorama pepohonan yang hampa tanpa makna, institusi keluarga yang munafik, juga kebobrokan sistem yang mengakibatkan peristiwa tabrak lari, perjodohan paksa abad 21, dan penyakit-penyakit macam jantung dan kanker otak yang melanda remaja umur belasan.
Memang benar, remaja-remaja Indonesia zaman sekarang harus lebih galau dari sebelum-sebelumnya. Hidup kadang bisa jadi bencana –terutama di tangan pembuat film yang hanya mempertimbangkan uang.

"I love London. I love England. We were out in the countryside and I had the time of my life. " Debra Messing Sebenarnya tulisan ini berasal dari ingatan yang lamur akan kunjungan kami ke Cambridge dan Oxford via bus. Semalam saya nggak bisa tidur, lalu saya memiliki pikiran saya harus menulis ini. Kami meninggalkan London saat hujan datang menerpa. Kaca-kaca di bis National Express basah oleh titik-titik air yang berkerumun bagai embun. Pepohonan di sepanjang sungai Thames berkibar-kibar dihantam angin London yang kencang. Kami sebenarnya telah berniat untuk keliling pedesaan Inggris, mulai dari Oxford, Cambridge, Manchester, Liverpool lalu ditutup dengan pergi ke Skotlandia, yakni di Edinburgh. Rencana berubah karena apa yang kami bayangkan bisa jadi garis lurus ternyata harus berputar-putar. Belum lagi, biaya yang membumbung dan cuaca yang tidak mendukung (Edinburgh akan sudah sangat dingin ketika kami ke sana), selain bahwa saya nggak gitu suka berkunjung ke sebuah tempat hanya sehari dua hari tanpa benar-benar merasa seperti orang lokal. Tapi apa daya, di Rabu sore yang hujan itu, kami akhirnya menumpang bis National Express ke Cambridge, untuk kemudian ke Oxford. Kami naik bis dari stasiun Victoria di dekat istana Buckingham, dengan harga tiket yang jauh lebih mahal dari ekspektasi kami (sekitar 12 pounds/one way, sementara harga di online hanya 6 pounds). Kami berangkat bersama-sama anak-anak keturunan India yang kami yakin sekolah di Universitas Cambridge di jurusan Matematika atau pun Teknologi Informasi. Di sebelah kami, seorang nenek-nenek Inggris yang sering kami lihat di dalam film-film costume drama masa Victorian. Dia mengenakan syal dengan jaket wool warna hijau, dengan kaos kaki putih kekuningan, dengan tas yang sangat Inggris, dan membaca sebuah booklet dari acara pesta taman yang diselenggarakan Pangeran Charles. Wajahnya putih dan dingin, benar-benar mirip ibu-ibu mertua galak dalam film-film Inggris klasik. Perjalanan menuju Cambridge merupakan perjalanan yang sangat mengesankan. Berbeda dengan jalan-jalan di Amerika Serikat bagian pantai timur dan utara, jalan-jalan di pedesaan Inggris benar-benar menampilkan alam pedesaan. Kebun-kebun gandum yang telah dicukur dengan warna keemasan, padang-padang rumput, sapi-sapi dan domba yang bergerombolan di landskap perbukitan, pepohonan, juga mega-mega serta langit yang mirip sekali dengan lukisan-lukisan Romantik dan Neoromantik Inggris. Ketika saya melihat lukisan-lukisan Constable dan Turner di Tate Britain, saya pikir itu hanya bisa-bisanya mereka saja melukis. Namun setelah menempuh perjalanan lebih dari dua jam ke Cambridge, saya benar-benar melihat bahwa lukisan-lukisan Turner itu begitu nyata, persis hingga ke rumput-rumputnya. Jarang sekali ada stop dengan motel-motel serta McDonald atau Wendy's seperti yang ada dalam road movie Amerika. Kita akan melewati padang rumput benar-benar tanpa bangunan atau kota-kota kecil banget (Luton, Saffron, Bedford) dengan rumah-rumah yang bergaya sama, dengan pagar, dan mobil dan pepohonan seperti yang nampak dalam lukisan-lukisan. Kami melihat matahari tenggelam di ufuk Barat, menyisakan warna keemasan di sisa-sisa air di atas dedaunan. Namun ketika kami sampai di ujung Cambridgeshire, matahari masih tajam bersinar. Kami memasuki tempat parkir bus, namun bus terus berlanjut melewati daerah residensial yang kecil-kecil dan sunyi sekali. Udara mulai sangat dingin. Kami seperti berada di sebuah tempat di dalam film-film dongeng, karena kesunyian dan kedinginannya yang tampak abadi. Hanya ada satu dua orang lewat dan terus terang saja, itu menakutkan bagi saya. Sekitar jam 6 sore kami sampai di sebuah lapangan dengan pemandangan ujung-ujung menara gereja yang runcing. Beberapa anak dan orang ramai bermain sepakbola di beberapa bagian, sementara para mahasiswa mengayuh sepedanya melewati tengah lapangan. Selamat datang di Cambridge, sapa sopir bis kami yang super ramah. Kami telah tiba di Cambridge. Kami bersorak. Lapangan berumput sangat sangat hijau dan terawat ini bernama Parker Piece dan bisa dibilang sebagai landskap kampus Cambridge yang cukup ikonik. Anak-anak bermain bola, mahasiswa bergegas dengan sepeda, sunset yang jatuh di atas bangunan-bangunan runcing Queens dan Kings' college, apalagi? Kami segera membuat orientasi dan mencari tempat penginapan. Seorang laki-laki dengan sangat ramah meminjamkan aplikasi Iphonenya untuk mengecek hostel yang kami cari. Kami pun berjalan di antara apartemen-apartemen berdinding bata merah, dengan gaya klasik yang berjejer dengan rapi di sepanjang Jl. Tenison Malam segera datang dengan cepatnya, dan kami pun lapar. Tapi ternyata hostel dan hotel yang kami tuju semuanya sudah penuh. Sempat kesal juga, ada apa sih kok semuanya penuh. Sampai jam 8 malam, kami belum juga dapat hostel/hotel/bed and breakfast. Kami mulai panik. Tiba-tiba saya benci banget dengan Cambridge. Hampir nangis karena kecapekan. Juga curiga dengan perlakuan mereka. Jangan-jangan karena kami dari Indonesia/Asia. Kami berjalan di dekat Cherry Hinton dan ada hotel berharga 90 pounds. Damn! Kami sudah overbudget di bis, nggak mungkin lagi nginep dengan harga segitu, itu pun cuma bintang 2 atau 3. Akhirnya kami memutuskan terus jalan. Lumayan lama, sekitar 1-2 km hingga kami menemukan beberapa bed and breakfast. Kami benar-benar seperti Maria ketika akan melahirkan Yesus. Bed and breakfast pertama penuh, tapi dia memberi petunjuk satu bed and breakfast lagi. Terantuklah kami pada satu bed and breakfast yang modest, dan beruntunglah kami dapat kamar dengan harga 60 pounds berdua, termasuk breakfast. Yaudahlah, apa daya, daripada tidur di jalan. Secara dinginnya sudah ampun-ampunan (mungkin sekitar 9-12 Celcius). Bed and breakfast ini dikelola sebuah keluarga Inggris yang cukup ramah. Kamarnya pun lumayan enak, tidak ramai lagi. Benar-benar seperti konsep bed and breakfast yang sebenarnya. Sarapan kami di pagi hari juga lebih dari biasa, sehingga kami tidak kecewalah udah mengeluarkan uang segitu banyak (untuk ukuran Indonesia). Paginya kami naik bis ke Tourist Information Center di kamus Cambridge. Mungkin karena sedikit rasa bete dan juga tidak mengenal kota ini sama sekali, kami memutuskan untuk ikut tour cepat tentang kampus Cambridge. Bersama berbagai orang dari berbagai bangsa, kami mengikuti walking tours yang menjelaskan kampus-kampus Cambridge mulai dari gedung-gedungnya, sejarahnya, mahasiswanya, dan lain sebagainya. Guidenya sendiri pernah mengajar di Cambridge jadi pengetahuannya tentang kota ini bagus. Tour dimulai dari bangunan tertua di Cambridge yang dibangun pada tahun 1448. Disebelahnya, ada laboratorium kimia molekuler tempat Watson dan Crick menemukan DNA pertama kali. Di sepanjang kampus Cambridge, juga terdapat pohon-pohon apel. Konon di salah satu pohon apel Cambridge ini, Sir Isaac Newton merenung dan menemukan inspirasi tentang gravitasi bumi. Setelah itu, kami ke Queens College, sebuah kampus yang sangat amat tua dan merupakan salah satu kampus tertua di Cambridge, lengkap dengan pagar-pagarnya yang tinggi dan menara pengamat. Benar-benar kampus untuk para borjuasi yang ingin meminimalisir interaksi dengan orang lokal. Setelah itu, kami menyeberang jembatan Cambridge sambil melihat anak-anak Cambridge ber-punting/mendayung kayak di film The Social Network. Benar-benar seperti di kartu pos. Mereka mendayung dari satu kampus ke kampus lain. Tapi banyak juga orang lokal yang mendayung untuk turis. Kampus Cambridge ini memang permai benar. Luas, penuh dengan bangunan tua, pohon-pohon, sepeda, dan sungai. Kami menyusuri sungai dan berjalan lagi hingga ke Kings College yang merupakan college terbaik dan paling prestisius di Cambridge. Dengan arsitektur Tudornya, Kings College benar-benar sebuah architectural marvel. Di sekitarnya, rumput-rumput superhijau nampak seperti castle-castle dalam film-film. Si guide menceritakan sejarah college ini lengkap dengan intrik para bangsawan Inggris. Seperti nonton film di BBC aja nih. Tour berakhir di depan Kings College. Semua orang boleh foto-foto atau punt-ing. Sewa sepeda sebenarnya murah juga. Sekitar 10 pounds per hari. Dan naik sepeda merupakan hal paling menyenangkan di Cambridge. Jalannya datar, banyak padang dan pepohonan, dan tidak banyak kendaraan umum (mobil, bis dan lain sebagainya).Mungkin 90% orang di kampus Cambridge bersepeda. Namun waktu tak mengizinkan. Kami makan scone dan makanan tradisional Inggris lainnya di Auntie Tea House, lalu ke alun-alun untuk membeli oleh-oleh, dan segera berlari ke bus stop menuju Oxford. Kami takut kemalaman dan nggak dapat hotel lagi.
"London is a small place, and it is very incestuous. People know where you live. Everybody is sort of on top of each other."  Jeanette Winterson Makan siang pertama kami di London adalah di Wetherspoon, beberapa meter dari stasiun overground Brockley. Wetherspoon lebih mirip bar (with extensive beers option) yang menyediakan kafe dengan meja-meja, dengan tamu-tamu adalah tetangga sebelah yang butuh makan siang. Tak ada yang mencolok dari Wetherspoon. Beberapa orang, tak lebih dari 10, duduk berdua-dua atau sendiri dengan laptop. Satu-dua pekerja konstruksi datang untuk membeli bir. Satu dua orang lewat, kadang ibu-ibu dengan kereta dorong bayi, kadang dua orang cewek dengan cat rambut berwarna hijau dan pink, kadang pekerja kantoran biasa. Di seberangnya, sebuah supermarket sekaligus kantor pos ditunggui oleh seorang perempuan gemuk keturunan India, dua restoran yang menyediakan greasy food, satu noodle shop, dan toko-toko kecil lainnya. Persis di depan stasiun, ada dua kafe yang menyediakan menu breakfast 'cepat' macam kopi, cupcake, sandwich, dll. Makan pagi di sana, dalam beberapa hari telah menjadi semacam ritual. Kami biasa ngopi di Browns@Brockley, jam 8 pagi, bersama ibu-ibu (kelas menengah) dengan bayi-bayi mereka, atau anjing, atau para desainer/arsitek/writer dari apartemen-apartemen sebelah yang membawa laptop Apple mereka. Dua orang penjaga, satu cewek dan dua cowok (apparently hipster) dengan ramah akan menyapa semua orang yang datang. Sepertinya mereka saling mengenal -memang demikian, sehingga kehadiran kami yang cukup menyolok membuat para penjaga itu berspekulasi bahwa kami dari Tokyo (I bet they're from Tokyo. Ohh, I love Tokyo!). Ketika kami ngobrol dan bilang kami dari Indonesia, there was an awkward moment. Oooo. They tried to locate where Indonesia is in their mental map, obviously. Setelah sarapan, kami akan pergi ke venue konferensi di London South Bank University (LSBU) di London street dengan bis double decker. Sejak dari Jakarta, saya berpikir naik bis double decker itu pasti seru kayak di film-film. Tapi ternyata tidak. Apalagi kalau berada di atas, dan di belakang. Mengapa? Karena jalan-jalan di kota London itu kecil-kecil, bahkan jauh lebih kecil daripada Jl. Sudirman. Beneran, nggak bohong! Dengan bis-bis segeda gajah dan jalan-jalan sekecil Jl. Cikini Raya tentulah bukan ide yang bagus ngejogrok di lantai dua bis sambil deg-degan atau pusing ngeliat jalan. Hal ini terutama juga karena banyaknya pekerjaan konstruksi dalam rangka mempersiapkan London sebagai tuan rumah Olimpiade 2012. Nah lho. Meski demikian, naik bis merupakan cara terbaik untuk melihat kota London yang dipenuhi dengan bangunan tua. Berbeda dengan kota New York, sebagai contoh, kota London ini bisa dikatakan lebih kecil, namun lebih menyebar. Di Manhattan, orang tinggal menghafalkan jalan dengan membagi kota dalam lajur-lajur (vertikal avenue, horizontal street). Setiap lajur dihitung sebagai blok. Di London, kita nggak pernah tahu mana avenue, mana street, mana boulevard. Emang nggak ada sih. Semuanya disebut street/jalan. Area tidak dibagi perblok, namun setiap area tampaknya memiliki pusat masing-masing. Jadi kotanya lebih mirip kumpulan borough daripada sebuah wilayah administrasi yang tertata jelas (kecuali di pusat kota, yang disebut Square Mile). Penduduk London terhitung banyak (lebih dari 8 juta orang), namun selama hari kerja kami menjelajah London tak sekumpulan manusia pun kami jumpai. Halah. Ini metropolitanya ada di mana? Menaiki bis double decker memungkinkan kami melihat tempat-tempat yang ramai, biasanya pasar atau perempatan. Tapi yang dikatakan ramai itu ya nggak ramai-ramai banget. Nggak kayak Senen-lah pastinya. Hal ini sedikit membuat kami kecewa. Kok nggak seperti yang kami bayangkan ya? Namun kami ternyata salah karena tube ramai sekali kala weekend. Mulai Jumat malam, orang-orang akan berdandan habis untuk pergi ke klub/diskotek/nonton teater/nonton film/sekadar nongkrong di pub. Sementara bis hanya ramai kala rush hours (terutama sore, mulai jam 5). Selain itu, keramaian hanya terpusat di daerah-daerah tertentu sebagai berikut: 1. West-End Di hari pertama kami datang ke London, kami sudah ke West-End. Benar-benar turis hahaha. Niatnya udah nggak bener memang. Saya dan Nayla pergi ke Piccadilly Circle karena saya berpikir tempat ini pasti seru abis, kayak Time Square-nya NYC. Di banyak tulisan, Piccadilly memang sering dikatakan sebagai pusat keramaiannya London. Ketika kami ke sana, oh lala..... By any comparison to Time Square, Piccadilly seems too lame. Piccadilly adalah semacam perlintasan dari banyak jalan dengan neonsign-neonsign dan monitor besar yang konsepnya mirip Time Square. Namun demikian, karena tidak ada pencakar langit, maka ukuran monitor/neon sign itu ya biasa-biasa saja, nggak mencolok apalagi besar. Yang sama, mungkin keramaian turisnya. Meski nggak sebanding juga, tapi daerah ini padat oleh turis dari berbagai negara, terutama Eropa. Sebagai Nayla yang sok nggak mau disebut turis, kami memutuskan untuk jalan kaki ke arah Soho. Di perbatasan antara Soho dan Chinatown, kami menjumpai banyak banget restoran-restoran Asia (terutama China dengan berbagai jenisnya) yang kecil tapi cukup fancy. Kami memutuskan makan malam di Liko, sebuah restoran Korea di 2-3 Lisle Street yang dipenuhi dengan orang lokal (penduduk London). Dari Soho, kami jalan ke arah Leicester Square di mana keramaian mencapai puncaknya. Turis, orang pulang kerja, orang-orang yang pengen nonton film atau teater memadati square kecil ini. Leicester Square memang sangat strategis. Selain dipenuhi dengan restoran/kafe dgn terasnya yang terbuka, Leicester dekat dengan berbagai bioskop, baik komersial (Vue, Odeon) maupun art-house (Prince Charles Cinema), gedung teater (di salah satu sudut square, ada booth tkts yang menjual tiket diskon untuk teater-teater di West End, ex. Apollo, Comedy), dekat dengan Chinatown, dan dekat dengan Trafalgar Square (yang bisa dikatakan pusatnya pusat, ada dua national gallery, pusat seni kontemporer ICA, toko buku Waterstone dll). 2. Camden Di akhir konferensi, kami memutuskan pergi ke London bagian utara, yakni Camden. London bagian utara sering diidentikkan dengan area kelas buruh alias daerah murah yang tidak seflashy dan sefancy daerah pusat dan selatan. Kami keluar dari stasiun tube Camden Town dan merasakan apa yang tidak pernah kami rasakan di London sebelumnya: Oohhh, akhirnya kami melihat peradaban!!! Ini memang teriakan yang sangat norak, tapi Camden benar-benar berbeda dengan wilayah selatan dan pusat yang sangat rapi dan sepi. Sebagai manusia tropis yang biasa hidup dengan 240 juta orang, tentunya hal yang sangat menggembirakan melihat berbagai jenis orang, mulai dari yang berdandan baju koko ala Afganistan hingga gothic serta punk berkumpul di satu area. Dibandingkan West-End, Camden memiliki lebih sedikit turis, namun tetap relatif banyak. Kebanyakan bertujuan untuk membeli souvenir murah di toko-toko yang tersebar di sepanjang Jl. Camden dan di sekitar Camden Market. Scenenya seru banget. Banyak orang-orang London dengan berbagai jenis hilir-mudik nggak jelas, kebanyakan anak muda. Beberapa duduk-duduk saja di tepi jalan, beberapa menenteng gitar --tentu dilengkapi dengan potongan rambut yang nyaris menutupi mata, atau tidak simetris--, beberapa yang lain berdandan ala punk dengan tato, rantai, dan rambut-rambut mohawk. Kami makan buffet di restoran China, Max Orient (8.8 pounds/orang, makanan China pertama dan terakhir yang kami makan di London), dan duduk di sebelah cowok London yang superkece namun....... Kejadiannya seperti ini:dia makan dengan temannya, seorang cowok kulit putih, yang tampaknya baru bangun dari sebuah tidur panjang dan belum makan selama seminggu. Si cowok superkece ngomongggg terus sedangkan cowok yang baru bangun itu makan melulu (sudah tak terhitung berapa piring yang ia habiskan sepanjang kami duduk di situ). Gaya bicara si cowok superkece itu selalu mengingatkan saya pada mahasiswa-mahasiswa master labil yang tinggal di Brooklyn: penuh keyakinan, sepertinya hal-hal yang ia bicarakan bisa berdampak pada sistem kapitalisme global sekarang ini. Tentu saja, mereka hipster seperti yang muncul dalam video ini atau ini. Kaosnya bagus dan potongan rambutnya sedikit tidak simetris. Ketika kami keluar dari Max Orient (mereka masih ngobrol dan makan), kami tak bisa menawan tawa lagi. Entah karena kami merasa itu hal yang menggelikan atau kami merasa sebenarnya kami sejenis dengan mereka. Well, anyway, beberapa meter dari Camden Market, terdapatlah sebuah sungai dengan jembatannya yang sangat tua, yg disebut Regent's Canal, di mana anak-anak muda London duduk di kafe-kafe di pinggir sungai, atau nongkrong-nongkrong di bawah pohon, sambil ngobrol. Atmosfernya seperti rive gauche-nya Seine di Paris. Dari situ, kami keliling Camden dan menemukan satu rental video dan berbagai pub/bar. Persis di perempatan Camden, ada sebuah venue gig untuk musik underground (metal, grindcore, hardcore, etc) dengan cowok-cowok gondrong berbaju hitam-hitam, dengan bouncer yang tampaknya membuat kami hanya pantas dijadikan pengganjal pintu. 3.Thames Festival Pada hari Minggu, 12 September 2010 kami kembali ke daerah 'borjuis' alias South Bank demi menonton Thames Festival. Kami memilih berbasis di Southbank Centre, sebuah pusat kegiatan seni macam Lincoln Center atau TIM yang berisi gedung teater (National theatre), gedung pertunjukan (Royal Festival Hall, dll), Hayward Gallery dan pusat perfilman British Film Institute. Pembahasan soal BFI akan ditulis dalam tulisan tersendiri. Namun kami memilih ikut kumpulan massa yang super duper ramai dan heboh di tepi sungai Thames. Thames festival diselenggarakan setahun sekali oleh walikota London dengan berbagai acara, mulai dari festival makanan, bazaar barang-barang, hingga pertunjukan-pertunjukan seni, yang semuanya berlangsung di tepi sungai Thames, terutama di dekat London Eye GRATIS. Ya sudah, kami ngejogrok aja di situ, merasakan berbagai makanan mulai dari Mexico, China, Korea, India, Brazil, you name it deh, but Indonesia. Semua jenis manusia berkumpul deh ya, mulai dari turis hingga para hipster yang tampaknya jarang ke daerah Selatan, keluarga, hingga anak-anak SD/SMP/ABG. Ada konser, ada pertunjukan sirkus, modern dance, teater gratis, pertunjukan kembang api, dll. Apalagi, hari itu udara cerah sekali. Matahari bersinar dengan hangatnya. Tiba-tiba semua orang London menjadi sangat ramah dan gembira!!! 4. Brick Lane dan Shoreditch Kembalilah kami ke pangkuan para anak muda yang pretensius dengan dandanan mereka yang aneh-aneh. Kami ke Shoreditch -tanpa uang, karena ketinggalan -karena katanya di sinilah magnet anak muda masa kini London. Di sepanjang jalan Shoreditch, terlihatlah kafe-kafe dan bar-bar kecil dan fancy yang dipenuhi dengan anak-anak muda dari timur London yang kira-kira berprofesi sebagai: mahasiswa, struggling artis/seniman, desainer, shop assistant, struggling actor, dan hal-hal semacam itu. Daerah ini terkenal dengan resto-resto Asianya dan resto-resto kecil nan fancy macam Albion atau pun 15-nya Jamie Oliver, sang naked chef. Kami makan di Hung Viet di Shoreditch High Street. Beberapa hari kemudian, kami kembali lagi ke daerah ini via White Chapel, dengan mengunjungi White Chapel Gallery yang memiliki kuratorial pameran yang cukup baik, lalu ke Brick Lane demi Curry Festival. Brick Lane adalah daerah kaum imigran. Sekarang ini ia banyak ditinggali orang-orang Bangladesh sehingga Brick Lane sering disebut sebagai Bangla city. Namun demikian, selama dua tahun terakhir ini ribuan anak muda kulit putih membanjiri areal bersewa murah ini dalam sebuah bencana nasional yang disebut gentrification. Maka, Brick Lane menjadi area hip yang penuh dengan toko-toko vintage yang sangat keren(Rokit, Brick Lane Thrift Shop, dll) dan beberapa pub/bar, serta CD/music/vinyl stores. Brick Lane juga dekat dengan pasar Spitalfield yang penuh dengan produk organik dan juga barang-barang kerajinan. Meski disebut curry festival, Brick Lane memiliki semacam pasar/tempat yang dipenuhi dengan berbagai macam jenis makanan dari seluruh penjuru dunia --dengan harga yang lebih murah daripada di Southbank. Surganya para foodie --seperti Nayla, yang mencoba makanan Mexico, Spanyol, Brazil, Thailand, Srilanka, Jepang, dlsb. Kala matahari terbenam, perut saya sudah kembung dengan berbagai jenis jajanan dan minuman, macamlah bir yang dijual murah-murah kayak air mineral. 5. Portobello Market/Notting Hill Di sebuah Minggu yang cerah, kami berkunjung ke Notting Hill dan berharap bertemu Hugh Grant, tetapi yang kami temui justru semakin membuat kami kalap. Jalan Portobello adalah sebuah jalan naik-turun, namun lurus yang berisi apartemen-aparteman yang sangat fancy, butik-butik vintage (Channel, Versace, Lacroix, name it), toko-toko antik, toko-toko souvenir, toko-toko buku dan CD/musik, dan kafe-kafe pinggir jalan yang membuat patronnya tampak seperti sangat sophisticated. Harga di sini sedikit lebih mahal daripada di Brick Lane, tapi toko buku dan komik tanpa nama (hanya ditulis Book & Comic Exchange) serta toko-toko Oxfam membuat kami pengen melakukan perampokan. Tak menyebut butik-butiknya yang bermacam-macam. Tak seramai West End, tapi bersabarlan untuk berjalan hingga ke ujung jalan. Di sana ada pasar yang menjual barang-barang second hand, termasuk DVD, CD, dan baju, yang agak-agak mirip di Dumbo (NYC), harga minimum 5 pounds. to be continued
"I love going into the centre of London because people don't give a monkey's about you or who you are. You can be in a restaurant and no one notices you or if they do they won't show it. " Teddy Sheringham Bagaimana kami bisa ke London? Tentu saja mengurus visa, membeli tiket dan ke sana sendiri. Namun ternyata hidup tidak sesederhana itu. Usaha ke London pertama kali didorong oleh adanya sebuah acara bernama konferensi " Representations of War and Terrorism since 9/11 in Film, TV Drama and Documentary" yang diselenggarakan oleh Centre for Media and Culture Research London South Bank University (disingkat LSBU). Seorang teman mengirimkan call for paper ke saya. Nayla yang memang pengen ke London, mengajak saya menulis abstract untuk acara ini. Yang pertama kali kami lakukan adalah mencari topik, melakukan riset pendahuluan dan menulis abstract. Intinya, kami akan presentasi soal film-film Indonesia yang berkaitan dengan tema-tema teroris, terutama film 3 Doa 3 Cinta, Long Road to Heaven dan film-film dokumenter Leonard Retel Helmrich. Kami lalu menghubungi panitia dan menunggu pengumuman apakah paper kami layak dipresentasikan di Inggris. Beberapa bulan berlalu hingga muncullah email jawaban dari Bpk. Philip Hammond sebagai ketua pusat penelitian di LSBU mengabarkan bahwa paper kami terpilih dan kami bisa datang ke London. Saya bukannya senang, malah gugup. Sialan, harus nyiapin presentasi beneran nih, pikir saya. Hingga dua hari sebelum berangkat, kami belum juga bersepakat soal versi akhir presentasi. Apalagi ketika melihat abstract-abstract dan presenter-presenter yang masuk, Astafirullah......Prof., Dr., Phd candidate...... Astaga, saya mau kabur aja rasanya. Nggak ke London, nggak apa-apa deh, pikir saya. Saya benar-benar nggak tau scene akademik di Eropa, kecuali Perancis. Kami termasuk debutant dalam hal presentasi dan membuat paper akademik. Belum lagi bahasa Inggris yang pas-pasan. Saya kadang berpikir, betapa susahnya peneliti/akademisi dunia ketiga seperti saya ini untuk masuk ke kanon akademik Barat. Di Indonesia sendiri, sangat jarang kami ikut presentasi-presentasi/konferensi-konferensi akademik, karena memang nggak ada kayaknya. Mungkin saya yang nggak tau, tapi sangat sulit menemukan forum-forum yang bisa jadi contoh/yang bisa menantang para akademisi untuk membuat tulisan/presentasi yang bagus dan mendapat masukan dari orang-orang lain, baik dari dunia akademik itu sendiri/di luar. Presentasi pertama saya di forum akademik barulah Agustus kemarin di Universitas Indonesia dan itu pun kurang maksimal karena banyaknya persoalan teknis. Belum lagi persoalan bahwa kajian film adalah studi yang minor dan 'agak gak penting', selain kurang dikenal (studi berbeda dengan kritik film di media). Presentasi di tingkat regional yang pernah saya lakukan adalah di Southeast Asian Cinema Conference yang dihadiri teman-teman yang berminat dengan studi sinema Asia Tenggara. Untuk tingkat 'internasional' saya baru sekali presentasi di Chicago dalam acara pertemuan tahunan Association of Asian Studies (AAS). Forum di AAS-lah yang membuka mata saya pada riuh-rendahnya dunia akademis di negara-negara maju. Para presenter/akademisi benar-benar ditantang untuk membuat presentasi/riset yang bagus dan menerima masukan dari teman-teman 'seperjuangan'. Bagaimana dengan London? 1. Konferensi Screens of Terror diikuti oleh sekitar 100 orang, dengan mayoritas adalah dosen (tingkat profesor/doktor), segelintir mahasiswa PhD, dan hampir tidak ada mahasiswa master/S1 2. Fokus konferensi adalah pembahasan representasi perang dan terorisme dalam film-film, kebanyakan Hollywood setelah peristiwa 9/11. Maka pembahasan seperti representasi Arab/Islam dalam film menjadi porsi kajian yang sangat besar, selain tema-tema film dan genre (terutama war film dan action), dokumenter, jurnalisme televisi, media dan war on terror agenda, film propaganda, kebijakan anti-terorisme secara global dan kebudayaan visual. 3. Film-film yang dibahas, seperti yang telah dikatakan adalah film-film Hollywood seperti The Dark Night, The Hurt Locker, Syriana, Redacted, Rendition, In the Valley of Elah, United 93, World Trade Center, beberapa dokumenter HBO, serial televisi 24, dan beberapa dokumenter lainnya. 4. Peserta konferensi mayoritas datang dari Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Irlandia, Norwegia, Denmark dan negara-negara Eropa Barat pada umumnya. Afrika? Satu dari Mesir tapi dia tidak jadi datang karena sakit. Timur Tengah? Absen. Asia? Tidak ada kecuali kami:), jauh-jauh dari Indonesia. Mengapa seperti ini? Saya berpikiran positif bahwa mungkin karena konferensi berlangsung pada hari Idul Fitri (9-11 September 2010). Tapi mungkin ada yang lebih buruk dari sekadar memilih waktu konferensi. Terus terang saja, saya agak kaget membaca line-up konferensi karena dengan jelas, konferensi ini membahas representasi tentang Islam, Arab, terorisme dan isu-isu yang sepertinya sangat Timur Tengah, tapi tak satu pun dari dunia 'Islam' atau Timur Tengah atau Arab datang/presentasi. Mau tidak mau saya berpikir soal siapa bicara siapa, siapa bicara tentang siapa, hal-hal seperti itulah. Saya yang tadinya malas-malasan presentasi jadi sedikit bersemangat. Saya berpikir, setidaknya kami bicara dari sebuah negara yang penduduk mayoritasnya Islam, kami hidup bersama/di antara subyek yang dibicarakan para akademisi ini, dan kami memiliki sudut pandang yang berbeda thanks to our origin! (Bahwa posisi saya sebagai orang yang tak pernah jadi Islam dan sangat borjuis tiba-tiba menjadi tidak problematis, setidaknya di mata saya sendiri. Mungkin di mata orang lain). Konferensi dibuka dengan plenary session dengan pembicara Prof. Jack Shaheen yang menulis buku "Reel Bad Arabs:How Hollywood Vilifies a People". Melalui pemutaran dokumenternya dan pembicaraannya dalam sesi ini, Prof. Shaheen membicarakan bagaimana mesin sinema Hollywood membuat stereotip tentang orang Arab. Melihat film-film Hollywood dari era film bisu hingga kontemporer, Prof. Shaheen menyimpulkan bahwa representasi Arab dari waktu ke waktu tidak mengalami perubahan berarti:bahwa mereka digambarkan barbar, kejam, suka berpoligami, dan menjadi teroris. Persepsi yang dibentuk oleh mesin sinema Hollywood ini mendapatkan dimensi baru setelah 9/11. Secara keseluruhan terlihat bahwa penggambaran Arab/Timur Tengah/Islam yang satu dimensi turut menyumbang pada persoalan identitas dan isu nasional pasca-9/11 di Amerika. Setelah itu, hari berikutnya, Jumat, 10 September 2010, kami mengikuti plenary session tentang studi genre perang, terutama genre perang kontemporer mengenai perang di Irak yang disampaikan oleh Dr. Guy Westwell dari Queen Mary, London. Presentasinya sangat menarik. Ia memperlihatkan kontinyuitas film-film perang Irak dengan film-film perang yang dibuat mengenai Perang Dunia II, Perang Vietnam dan seterusnya. Heroisme dalam film-film ini menjadi sesuatu yang sangat penting dan menggerakkan narasi film. Ia memperlihatkan ciri-ciri film perang dari masa ke masa (berdasarkan perang-perang yang dilakukan AS) dan menganalisis film-film perang Irak yang terdiri dari dua kategori, yakni yang menempatkan perang sebagai kenangan, dan combat film. Dalam tipe film kedua, narrative of rescue menjadi sesuatu yang penting. Presentasi kedua oleh Dr. Liane Tanguy dari York University tentang film-film perang Irak dihubungkan dengan novel Joseph Conrad, Heart of Darkness, tentu dalam hubungannya pula dengan film-film perang Vietnam. Menurutnya, film-film perang Irak sekarang merefleksikan hantu-hantu dari masa lalu, yakni kekalahan AS dalam perang Vietnam. Selain itu, saya nggak bisa lagi mengambil kesimpulan, habis saya nggak ngerti dia ngomongnya apa. Bahasanya terlalu canggih kali ya buat saya. Setelah sesi ini selesai, saya berbagi waktu untuk menghadiri panel yang berbeda. Nayla datang ke panel The Dark Night, saya datang ke panel soal dokumenter. Memang konferensinya tidak terlalu besar, tapi ada panel-panel yang dibuat paralel jadi mau nggak mau kami mesti milih. Panel dokumenter sendiri berlangsung so-so. Bukan karena topiknya tapi karena presenter-presenternya biasa saja alias tidak cukup meyakinkan untuk presentasi (suaranya terlalu lembut, tidak kedengaran, apa yang disajikan tidak baru, dll). Mungkin yang menarik adalah presentasi Dr. Joe Parker tentang subaltern representation dalam film dokumenter yang cukup menyinggung persoalan 'global south' alias negara-negara kayak kita ini, yang miskin (pemerintahnya) dan menjadi obyek dari kebijakan war on terror. Sesi setelah makan siang adalah sesi kami. Aduhhh, gugupnya. Udah nggak bisa mikir lagi deh mo ngomong apa. Pagi sebelum berangkat, kami sempat latihan presentasi dulu di rumah. Takut salah, terlalu lama, atau membosankan. Teman sesesi dengan kami adalah seorang mahasiswa Phd dari Jerman yang mempresentasikan paper tentang stereotip Arab di dalam film Hollywood dan Bollywood, Yuliya Ladygina, seorang mahasiswa Phd dari UC San Diego yang bicara soal film 12, sebuah film tentang pemberontak Chechen dan kami yang bicara soal drama teroris dalam film-film Indonesia. Kami bicara terakhir, sempat mo pengsan mendengar presentasi sebelumnya yang bagus banget. Seperti yang diduga, presentasi kami meleset beberapa menit dan banyak points yang harus dilupakan. Tapi ya sudah, hajar bleh-lah. Kami bicara soal film-film Indonesia, tentu saja harus didahului dengan informasi, dimana Indonesia, seperti apa Indonesia dan hal-hal seperti itu karena dari keseluruhan konferensi kami mengetahui bahwa: 1. Mereka tidak tahu dan tidak merasa penting tahu soal Indonesia 2. Islam = Timur Tengah = Arab. Islam di Indonesia? Who knows. 3. Terorisme di Indonesia? ......@#$? Benar-benar konferensi yang aneh. Kami sendiri nggak tau apakah kami bisa membuat mereka, para akademisi Barat, kulit putih itu noticed. Itu benar-benar tugas yang tak mungkin. Kami mendapatkan beberapa pertanyaan dari satu orang tentang film Leonard Retel Helmrich, yakni Promised Paradise, terutama adegan Agus Nur Amal memainkan boneka Osama Bin Laden. Benar-benar pertanyaan yang tak terduga. Kami harus bicara bagaimana persepsi orang Indonesia tentang Osama bin Laden dan hal-hal seperti itu. Setelah presentasi, kami mendapat beberapa comments yang cukup baik dari audiens, tapi benar deh, scene Eropa ini benar-benar berbeda dengan apa yang pernah saya lihat sebelumnya. Orang-orangnya cukup pendiam. Saya sendiri kurang ngerti bagaimana tanggapan mereka terhadap presentasi kami. Yah, seperti kutipan di tulisan ini, sangat sulit memahami 'bahasa' tak tertulis orang-orang Inggris dan orang-orang Eropa pada khususnya. (Dengan dosen-dosen Amerika, kami segera 'nempel' kayak lem, macam Prof. Shaheen, the cute grandfather yang selalu say hello dan ngobrol dengan kami). Tapi ya sudahlah, mungkin kami perlu waktu untuk melihat dan belajar. Sesi berikutnya saya langsung ikut pembahasan soal serial 24, sebuah serial yang dibuat oleh kekuatan kanan Bush yang sangat mendukung perang Irak. Presentasi Mike Dillon dari University of Southern California, bagi saya merupakan pemenang lomba presentasi hari itu. Menggunakan karakter Bauer, Dillon berhasil menganalisis sistem biopower Amerika dalam serial ini dan dalam agenda perang melawan terorisme secara umum. Bauer merupakan representasi dari superioritas Amerika, ia merupakan spiritual redemption, signifier of indestructible, American body yang bertahan melawan segala macam siksaan, sebelum kemudian menyiksa Arab Amerika. Dengan presentasinya yang bagus banget, lucu dan precise, ia berhasil menggunakan teori biopowernya Foucault untuk melihat agenda perang melawan terorisme terkini. Presentasi kedua dari si raja judes, seorang mahasiswa Phd dari Bergen, yang sejak hari pertama membuat saya jengkel. Saya pikir karena dia seasal dengan Kings of Convinience maka dia akan semerdu KoC tapi sudahlah. Pembahasannya tentang 24 dan representasi Arab tidak terlalu buruk, namun juga tidak terlalu istimewa. Malang aja dia karena presenter sebelumnya sangat bagus. Hari Sabtu, saya datang ke sesi tentang female suicide bomber dari Universitas Lillehammer (nggak tau deh dimana ini) tapi yang presentasi adalah orang Norwegia. Presentasinya sangat bagus. Mereka bicara tentang dokumenter berjudul My Daughter:the Terrorist, sebuah dokumenter buatan Beate Arnestad dan Morte Daae, 2007 tentang pembom bunuh diri dari Srilanka (Elan Tamil). Presenter berhasil menampilkan bagaimana dokumenter mem-frame teroris, dan bagaimana terorisme memanfaatkan media untuk kampanye mereka. Dalam kasus film ini, kebijakan keamanan internasional sangat dipengaruhi oleh dokumenter tersebut. Setelah itu, saya mengikuti beberapa sesi lain, antara lain soal komedi dan representasi perang dalam film In the Loop (oleh Philip Hammond), analisis digital memori melalui teori Deleuze (langsung kaburr....) dalam film Transformers. Konferensi ditutup dengan plenary yang menghadirkan Prof. Cynthia Weber dari Universitas Sussex yang menyampaikan pembahasan menarik tentang iklan 'I am an American', sebuah PSA yang disiarkan di televisi Amerika setelah peristiwa 9/11. Lalu Prof. Lynn Spigel dari Northwestern University yang menyajikan gambaran yang super keren tentang bagaimana industri televisi, dengan contoh pembahasan CNN beradaptasi dan meng-cover pemberitaan soal terorisme, lalu penutup disampaikan oleh Prof. Brigitte Nacos dari Departemen Politik Columbia University yang bicara soal bagaimana televisi dan film berpengaruh pada pengambilan kebijakan politik di Gedung Putih. Dalam hal ini, ia menyampaikan fenomena televisi menyangkut 9/11 yakni: 1. blurred lines between news and entertainment media 2. the dominant good vs. evil narrative in both news and entertainment 3. melodramatic mode used in many news/entertainment address 4. dominant anti-terrorism efforts Walaupun saya kadang merasa bosan dengan beberapa pembahasan, tapi akhirnya saya berhasil mencatat beberapa yang menarik. Secara garis besar, kami memang belajar banyak dari para pembahas, tapi kadang juga merasa penggaringan dengan panel-panel konferensi karena kurangnya interaksi. Atau apa yang kami anggap interaksi itu memiliki konsep yang berbeda di Eropa. Mungkin karena kami dianggap masih (dan paling) kecil. Sehari sebelum kami balik, kami bertemu Ben Murtagh, seorang dosen sastra Indonesia di SOAS, temannya Tito Imanda. Kami ngobrol dan bertanya padanya, apakah yang kami alami itu hal yang aneh. Dia bilang, tentu bukan hal yang aneh, karena di Inggris, sistem akademik jauh lebih birokratis sehingga apabila konferensi dipenuhi oleh dosen-dosen macam profesor atau doktor itu, akan sangat susah mengajak mahasiswa-mahasiswa master, apalagi S1 untuk datang. Setelah kata-kata Ben itu, kami jadi paham mengapa kami hanya bisa ngobrol dengan enak dengan beberapa orang dan tidak dengan beberapa orang yang lain. Tapi yang penting, mission has been accomplished. Pembelajaran mungkin bisa didapat di luar ruang. Yay!
"By seeing London, I have seen as much of life as the world can show. " Samuel Johnson Akhirnya saya memiliki waktu untuk menulis pengalaman saya tentang London, setelah bermacam insiden yang terjadi di dunia nyata Jakarta maupun dunia twitter. Menulis tentang sesuatu yang sudah lewat memang bukanlah susah, hanya berbahaya karena kita telah memupurinya dengan sederet nostalgia. Tapi bagaimana pun saya mesti menulis kan. Karena tanpa tulisan, kita nggak akan eksis (setidaknya di dunia maya ini). Saya dan teman saya,Nayla, pergi ke London untuk kepentingan akademik, yakni mempresentasikan riset/tulisan kami dalam sebuah konferensi tentang representasi perang dan terorisme dalam sebuah peringatan peristiwa 9/11 di Universitas London di Southbank. Dengan tiket utangan dan tabungan selama setahun terakhir, plus rasa percaya diri berlebihan, kami pun berangkat dari Jakarta tanggal 7 September 2010, menumpang pesawat Etihad Airways. Saya memiliki perasaan bercampur ketika menaiki tangga pesawat --lega karena meninggalkan Indonesia (haha!) namun juga takut menghadapi apa yang tidak kami ketahui. Sebelum berangkat, saya belajar dan membaca beberapa hal tentang kota mahal ini. Saya mencoba membuat orientasi dengan membaca petunjuk perjalanan Frommers dan tentu saja yang secara tak terduga, terpercaya adalah wikitravel. Selain melaksanakan amanah presentasi itu (dan dengan sendirinya mencari tahu soal lokasi acara), saya mempersiapakan daftar tempat-tempat yang harus saya kunjungi. Istilahnya, udah di sana, jadi sekalian aja dimanfaatkan. Lalu saya menyusun daftar tempat yang harus saya kunjungi berdasarkan kategori-kategori: 1. Seni Entah mengapa, saya selalu pengen melihat scene seni kontemporer maupun klasik di kota-kota yang saya kunjungi (kecuali Bantul yang adalah bukan kota, tapi sering saya kunjungi juga heheh). Mungkin karena saya bekerja di bidang ini. Yang saya maksud dengan seni mengacu juga pada film. Maka daftar saya di London terdiri dari: a. British Film Institute: sebuah organisasi penting di Inggris yang melaksanakan fungsi arsip film, bioskop alternatif, toko film, museum film, dan hal-hal yang terkait dengan film b. Tate Modern:sebuah museum dari tiga museum besar dunia (yang lainnya adalah The Museum of Modern Art dan Centre Pompidou) yang bertanggung jawab pada keberlangsungan seni modern di dunia c. Tate Britain: satu sindikasi dengan Tate Modern, namun berisi koleksi seniman-seniman Inggris d. Saatchi Gallery: sebuah galeri yang dimiliki pemilik agen iklan dan kolektor superkaya, Charles Saatchi e. Institute of Contemporary Arts: direkomendasikan oleh Hafiz, sebuah museum karya-karya kontemporer f. The National Gallery: museum nasional g. The British Museum: temannya teman saya bekerja di sana h. Serpentine Gallery: galeri seni kontemporer, penting karya banyak buku petunjuk perjalanan i. Sommerset House: galeri dan pusat kegiatan seni penting j.Whitechapel Gallery: galeri seni kontemporer 2. Landmark Saya pikir sekalian ah jadi turis. Maka saya membuat daftar hal-hal yang harus saya kunjungi di London, contohnya Tower of London, London Bridge, St. Paul church, Westminster Abbey, Hyde Park, Covent Garden, Harrods, dan lain-lain 3. Specific Yang saya maksud dengan specific itu sebenarnya nggak jelas. Tapi saya menulis Shoreditch karena saya baca di Newsweek, Shoreditch adalah Williamsburg/Brooklyn-nya London, semacam daerah baru yang tergentrifikasi yang memiliki banyak hal:kafe-kafe kecil, pub-pub, galeri-galeri hingga restoran-restoran Asia Tenggara (maksudnya:Vietnam dan Thailand). Setelah itu, saya menulis Arsenal karena maksud hati mo nonton sepakbola/stadion Emiratesnya mereka. Terus ke Notting Hill/Portobello Market karena saya nonton film Julia Robert berjudul Notting Hill. Selain itu, saya dan Nayla pengen nonton konser/gig band lokal. London terkenal dengan scene musiknya maka tak ada salahnya ketika di sana, kami pengen nonton. Saya melihat jadwal acara di London melalui time out London atau di AllinLondon sementara untuk jadwal dan petunjuk gig/konser, saya percaya dan menggunakan ini. Atau pergi ke Luminaire Nah, dengan daftar-daftar itu saya menempun penerbangan lebih dari 14 jam, melalui Jakarta-Abu Dhabi-Heathrow. Selama 14 jam yang membosankan itu, saya berhasil menyelesaikan beberapa film Hollywood di pesawat dari Diary of the Wimpy Kids hingga Marmaduke. Tiba di Heathrow sekitar jam 7 pagi dengan cuaca yang mendung sekali. Tak ada matahari muncul hingga jam 9. Waduhhh, ternyata gosip bahwa cuaca London itu sangat dull a.k.a membosankan, adalah benar. Suhu mencapai sekitar 12 derajad Celcius ketika kami datang. Itu di awal musim gugur dan akhir musim panas. Entahlah kalau bulan Desember. Dua hari lalu, saya baca di internet di beberapa bagian Inggris, salju telah turun. Kami harus mengikuti prosedur imigrasi hingga hampir jam 9. Pagi itu Heathrow ramai sekali. Berbagai orang dari berbagai negara mengantri masuk wilayah Inggris. Prosesi imigrasi kami relatif cepat. Agak tak terduga karena saya pikir akan selama/sesusah Amerika. Kami segera turun ke stasiun tube/subway di bawah. Aduhhh, antrian mulai terjadi. Kami sebenarnya pengen beli Travelpass yang seminggu, tapi karena petugasnya ditunggu banyak orang, kami tidak bisa daftar di situ saat itu juga. Terpaksalah kami membeli one way ticket ke rumah teman kami, yang adalah tempat tumpangan kami selama di London sekaligus membeli Travelcard untuk didaftarkan di stasiun terakhir kami berhenti (Brockley). Dibandingkan kota-kota besar lainnya, sistem transportasi London termasuk sangat mudah dihapalkan. Berbeda dengan New York yang pakai downtown/uptown system, kereta di London terbagi dalam beberapa sistem. Yang paling dominan adalah tube/underground dan overground. Sistem arah lebih mirip di Yogyakarta. Ada Northbound (yang berarti menuju bagian utara kota London), Southbound (menuju bagian selatan kota London), Eastbound (menuju bagian timur), westbound (menuju bagian barat) dan central London (yang beredar di daerah pusat). Nama-nama jalurnya antara lain Piccadilly, Jubilee, District dan lain sebagainya dengan warna-warna yang dibuat berbeda-beda . Yang perlu dipikirkan adalah membuat orientasi atas kota London, mana yang ada di timur, barat, utara dan selatan. Sistem tiketnya pakai scan, jadi seperti Paris, bukan seperti New York yang harus memasukkan tiket. Sama seperti sistem kota besar lainnya, kita bisa menggunakan Travelcard untuk naik bis termasuk bis double decker yang hendak menabrak Morrisey hehehe. Hari pertama, kami naik Piccadilly Line, terus Jubilee dan pindah ke Overground. Keretanya kecil dan bersih. Kursinya empuk dan bermotif-motif (katanya didesain khusus). Kami turun di Brockley dan dijemput Richard, teman kami yang superbaik hati yang akan meminjamkan perpustakaannya untuk kami tinggal. Benar-benar nggak modal deh saya:) Richard dan May, teman saya, dua-duanya dosen. Richard mengajar film di Goldsmiths College, sementara May yang sedang berada di Bangkok, mengajar film di Universitas Westminster. Di apartemen mereka yang nyaman (kami sempat nggak mau pulang!), kami meletakkan barang-barang untuk kemudian makan siang dan segera melihat-lihat kota. Brockley sendiri berada di South East, satu stop ke Goldsmiths, empat stop ke White Chapel, lima stop ke Shoreditch, satu kali naik double decker 177 ke Universitas London di South Bank. Cukup strategis. Neighbourhood Brockley adalah kulit putih, kelas menengah ke atas, semacam hipster, sangat sepi, dengan rumah-rumah yang dibangun sebelum perang, dilengkapi cerobong-cerobong asap dari bata berwarna merah dan kuning. Tak tampak adanya pencakar langit. Kelak, kami akan memupus harapan kami untuk melihat Empire State Building di London. Judulnya:ngarang!!!
 | London#1 | Sep 13, '10 5:51 PM for everyone |
 Untuk foto, silakan klik di sini.
Musim panas di London bersuhu rata-rata 12 derajat Celcius. Tak terbayanglah apabila musim dingin. Di suatu pagi di awal bulan September, matahari menyinari atap-atap rumah-rumah bergaya Victorian. Beberapa jam kemudian, hujan turun. Lalu mendung berarak di atas istana Buckingham. Selamat datang di London.
Gadis-gadis ramping dengan gaya seragam seperti Kate Moss berjejalan di stasiun tube/underground (sebutan untuk subway). Cowok-cowok hipster berdiri di gerbong-gerbong kereta dari daerah Camden atau Shoreditch. Mereka berbicara bahasa Inggris dengan nada yang lebih mirip orang Italia. That British accent!
London adalah Brooklyn dengan penduduk lebih besar. Dia tidak sebesar New York. Pertama kali saya datang dan melihat London Bridge, saya mulai meragukan bayangan saya sendiri tentang London, juga representasi sinematik atasnya. Segala sesuatu yang ada di film tampak larger than life. Saya datang ke London di akhir musim panas, ketika konser dan pesta luar ruang (outdoor) masih sedikit tersisa. Meski gadis-gadis manis suka menggunakan tight, tapi di atasnya mereka menggunakan jaket hitam yang pekat. Dari Senin hingga Jumat, jalan-jalan di London tampak tidak lebih ramai dari Bandung atau Bogor, tapi kala weekend, London jauh lebih ramai dari Jakarta. Sistem keretanya yang mudah dihapalkan, dilengkapi bis-bis double decker seperti dalam lagu The Smiths, dipenuhi dengan berbagai jenis manusia. Mayoritas tentu kulit putih Inggris, kulit hitam, lalu India dan Pakistan, serta sedikit turis.
Mereka cukup ramah, tapi tidak terlalu ceria --seperti juga cuaca London. Mereka telah mengalami turun-naiknya kehidupan di London termasuk harga barang-barang dan jasa yang jauh lebih mahal dari kota-kota besar lain. Sebagai gambaran: -harga makan pagi: 2,5-4 pounds -harga makan siang/makan malam: min. 7 pounds -harga beer: 1,7 -2,5 per gelas -nonton gig: 10-15 pounds (indie) -tiket kereta seminggu: 25,8 pounds (termasuk bis) -sewa apartemen: min 100 pounds (minggu) -harga kaos: 10-15 pounds -nonton premier liga: min. 27 pounds (member)
Untunglah museum-museum dibuka untuk umum, tanpa adanya biaya masuk/gratis. Beberapa highlights: 1. Tate Modern 2. Tate Britain 3. British Museum 4. Institute of Contemporary Arts 5. Saatchi Gallery 6. Serpentine Gallery
dan lain sebagainya. Untuk film, tentu bisa ke British Film Institute dengan harga tiket hari biasa 9,5 pounds dan nonton weekend di bioskop 13 pounds.
Benar-benar mahal. Tapi apa mau dikata? Nanti saya akan bikin laporan yang lebih benerlah.
Mungkin ruang itu hanya berukuran 7 x6 meter persegi. Mungkin lebih besar. Saya nggak pernah terlalu bagus dalam hal geometri. Ada lima loket dengan petugas berbaju ungu yang sibuk menghadapi para calon pemohon. Ruangan di lantai 22 sebuah gedung bertingkat di kawasan Sudirman itu dingin dengan AC. Suara dengung obrolan dari sekira 30-an orang yang menunggu antrian menyaingi panggilan antri dari petugas berbaju ungu. Di sebelah kanan, ruangan disekat oleh sebuah papan, menyisakan sebuah ruangan berukuran 1x2 meter berisi dua orang dengan peralatan biometrik.
Semua orang benci menunggu, apalagi kalau yang ditunggu adalah sesuatu hal yang tak pasti seperti visa. Saya tidak tahu apakah visa ditemukan untuk mempersulit orang. Atau mungkin visa baru ditemukan setelah 9/11, setelah ada orang-orang yang mengaku dirinya Islam/Arab dan dituduh teroris? Aplikasi Rabu lalu tidak saya lalui sendirian. Saya punya teman untuk ngobrol, untuk membagi gugup, untuk memastikan bahwa semua dokumen sudah lengkap dan meyakinkan diri bahwa petugas konsuler yang galak dan sinis itu tidak akan memiliki alasan untuk menolak. Saya tidak dapat menerima penolakan.
Tahun 2008 lalu, saya melamar visa untuk yang kedua kalinya. Lamaran pertama ke negeri Schengen tidak mendapatkan masalah karena saya dibantu oleh orang Kedutaan Perancis dan saya pergi ke Perancis untuk acara kebudayaan. Lamaran visa kedua, meskipun untuk kepentingan akademik/kebudayaan, tetap membuat saya takut. Mungkin bukan takut, namun gugup, jengkel dan lelah. Pergi keluar negeri itu ternyata bukan hanya masalah kaya raya dan harta benda, tapi masalah akses. Dan terdamparlah saya di sebuah pagi di bulan November, pukul 7 pagi, dengan mata hampir tertutup karena malamnya tidak bisa tidur, di antrian sebuah Kedutaan Besar berpagar macam Istana Kerajaan.
Bersama saya, puluhan orang dengan berbagai gaya ikut mengantri. Saya sudah menyiapkan berbagai dokumen pelengkap, termasuk bank statement dengan nilai yang lumayan fantastis untuk saya sendiri, undangan dari penyelenggara acara, hingga segala jenis surat rekomendasi dari kampus dan tempat-tempat saya pernah bekerja. Saya melihat keluarga-keluarga keturunan Tionghoa dengan anak-anak mereka yang tampaknya akan bersekolah di negeri paman Obama, lalu juga keluarga-keluarga kaya dari berbagai pelosok negeri yang berkeinginan untuk menjenguk saudara, atau pun berlibur. Mungkin di antara mereka, sayalah yang paling tidak nampak kaya untuk pergi ke Amerika.
Ujian pertama untuk pelamar visa Amerika adalah antri di pinggir jalan, diikuti screening keamanan dan jadwal di depan gerbang oleh petugas-petugas keamanan orang Indonesia yang judesnya melewati Ida Kusumah dalam sinetron-sinetron. Setelah lolos proses pertama, masuk ke proses kedua di mana seluruh dokumen kita akan diperiksa oleh petugas di depat loket pembayaran. Lalu kita membayar proses pengiriman visa, yang waktu itu sekitar 1,6 juta, tanpa jaminan kita akan diterima. Setelah mendapatkan kartu antri, kita akan melewati screening lagi. Petugas akan meminta tas dan seluruh barang kita, kecuali dokumen visa yang diperlukan.
Sambil menunggu masuk ke proses wawancara, kita akan diminta menunggu di ruang tunggu, dengan kursi-kursi panjang yang selalu mengingatkan saya pada gereja. Pagar-pagar Kedutaan Amerika yang kuat dan dipenuhi dengan sistem keamanan dihiasi gambar-gambar serta foto-foto pembangunan, hasil dari kegiatan badan-badan di bawah Kedutaan. Foto maupun gambar ini tentu saja tidak menggambarkan keindahan Amerika, atau pun keberhasilan mereka sebagai negara superpower. Gambar-gambar dan foto-foto itu tampak diambil tanpa kurasi yang baik, dengan representasi yang lebih mirip acara-acara Klompencapir di era Orde Baru. Tapi well, mungkin orang datang ke situ bukan untuk menikmati estetika foto atau gambar keberhasilan program USAID, semua orang yang datang ke situ bermimpi atau pun berkeinginan untuk ke Amerika.
Pada wawancara visa pertama di Kedutaan Amerika, saya diwawancarai seorang laki-laki berumur 45-an tahun yang saya duga berasal dari Midwest. Tanpa basa-basi, dia memeriksa dokumen, menanyakan hal-hal yang sepertinya sudah tertulis di formulir visa (untuk apa ke Amerika, berapa lama, siapa yang akan membiayai, dlsb), lalu menolak saya. Tentu saja penolakan visa di Kedutaan Amerika bukanlah hal yang mengagetkan. Semua orang sudah tahu betapa sulitnya mendapatkan visa Amerika. Saya cuma nyesek aja, kehilangan uang 1,6 juta (bisa buat jalan-jalan ke Vietnam).
Waktu itu saya mutung. Saya tidak terlalu peduli untuk ke Amerika mengikuti konferensi yang telah direncanakan, karena saya mendengar berita saya tetap akan ke Amerika tahun berikutnya (untuk program yang berbeda). Namun penyelenggara konferensi dan orang yang menanggung dana saya mendorong saya untuk mencoba lagi. Tidak tergeraklah hati saya hingga bulan Februari ketika seseorang yang saya kenal menawarkan bantuan malaikatnya. Dia seorang aktivis perempuan. Dia tahu saya seharusnya ke Amerika bulan Maret dan dia akan bertemu orang kedua di Kedutaan karena ia salah satu nominasi sebuah penghargaan bergengsi dari Washington DC. Maka ikutlah saya yang malang ini ke sebuah meeting tingkat tinggi yang diselenggarakan di Kedutaan. Teman saya yang baik hati itu mencoba memperkenalkan saya dan berceritalah persoalan saya. Tak diduga, staf kebudayaan yang turut rapat menanyakan beberapa hal tentang dunia film yang saya kenal (dia dari Brooklyn). Keesokan harinya, staf Indonesia di desk kebudayaan segera menelepon saya dan menguruskan visa saya. Saya nggak tau harus mengucapkan terimakasih sebesar apa pada teman saya tersebut. Saya mendapat visa 5 tahun.
Enam bulan setelah itu, saya kembali terduduk di sebuah kursi yang mirip kursi gereja itu untuk mengurus visa jenis lain (Visa, bagai produk, memiliki berbagai jenis: turis, pelajar, pekerja, dll). Saat itu, saya merasa lebih percaya diri karena sponsor saya sudah menguruskan semua dokumen imigrasi. Yang perlu saya lakukan hanyalah mengikuti prosedur wawancara. Bersama saya, seorang gadis mahasiswa dari Kelapa Gading melamar visa bersama saya. Maka terjadilah dialog seperti ini: Gadis Kelapa Gading (KG): Udah pernah ke Amerika ya? Susah nggak sih visanya? Aku denger susah banget. Saya: Iya, susah banget sih. Kamu mau aplikasi visa apa? KG: Visa turis. Saya: Ohhh, pergi bersama keluarga? KG: Nggak, ini sama tour. Aku pengen lihat Las Vegas. Saya (membatin, apa yang menarik dari Las Vegas): Ohhhh. Udah pernah ke Amerika sebelumnya? KG: Belum. Emang kayak apa sih Amerika? Apa orang-orangnya kayak kita? Aku dengar orang-orang Barat itu egois. Aku pernah tinggal di tempat kakakku di Hongkong. Mereka tuh individualis banget. Nggak kenal sama tetangga. Gimana coba kalau ada kebakaran? Susah kan... Saya (mengangguk-angguk): Iya sih, tapi ya...orang Amerika kan macem-macem ya (bingung mau ngomong apa). Dia menunjukkan dokumen-dokumennya. "Ini cukup nggak? " dia berkata. Saya melihatnya membawa kartu keluarga, kartu mahasiswa, tanda reservasi tour, dan keterangan dari keluarganya yang memiliki toko emas di Kelapa Gading. Wah, gawat, nggak bawa bank statement dia. Apalagi akta-akta tanah, aset dan lain-lain. Saya sih sudah yakin, dia nggak bakalan lolos, tapi apa yang harus saya katakan?
Karena menunggu pengurusan visa cukup memakan waktu (rata-rata tiga jam), saya jadi punya banyak waktu untuk mengamati para pelamar. Selain gadis lugu dari Kelapa Gading tersebut, saya melihat pasangan cowok Amerika dan cewek Indonesia, ibu-ibu dengan baju dan tas bermerk dengan sasak-sasak macam Rakhee Punjabi, hingga bapak-ibu berbatik dengan identifikasi kelas yang jelas. Ya, iyalah, siapa juga yang mampu membeli tiket mahal pergi ke Amerika kalau nggak kaya? Saya melihat aplikasi visa cewek Indonesia itu ditolak meskipun dia menunjukkan asetnya dan posisinya sebagai seorang pengusaha catering dan florist di Bandung. Seorang nenek yang datang bersama cucunya yang masih mahasiswa juga harus menghadapi kekecewaan karena hanya lamaran neneknyalah yang diterima, sementara aplikasi cucunya ditolak sama sekali.
Saya melihat aplikasi sepasang suami-istri yang pengusaha hotel di Jakarta juga ditolak. Gadis Kelapa Gading tadi tentu saja ditolak. Gawat, pikir saya. Petugas visa telah bertindak bagai Tuhan, suka-suka dia memutuskan. Giliran interview saya datang. Seorang petugas perempuan berusia late 30s menyapa saya dengan sangat ramah. Mungkin dia orang NYC atau California. Dia memeriksa seluruh dokumen saya dan menanyakan hal-hal yang tak perlu ditanyakan (untuk apa ke Amerika, ngapain aja, berapa lama, kamu tau kan kalau kamu tidak boleh kerja). Keputusan langsung keluar. Saya bisa mengambil visa exchange saya 3 hari setelah wawancara. Saya pikir saya cuma dapat 6 bulan, karena program saya lebih pendek dari itu. Tapi saya diberi visa mahasiswa selama setahun. Semua sponsor dan teman-teman saya heran (apalagi saya!)
Rabu lalu, saya kembali berada di ruang tunggu, penuh dengan foto-foto membosankan tentang Big Ben, jembatan Thames, atau pun pergantian tentara kerajaan Buckingham. Teman saya, Nayla yang baru pertama kali melalui proses visa, tampaknya tenang-tenang saja. Sudah lama ia bermimpi untuk pergi ke London (may God grants us our wish!). Sebenarnya saya agak bosan mengikuti prosedur-prosedur demikian, namun apa daya. Kami menunggu cukup lama untuk bisa dipanggi ke depan. Setelah menyetorkan dokumen dan membayar, kami harus menunggu lagi untuk pengambilan data biometrik. Setelah itu, saya berprasangka bahwa keputusan visa akan segera keluar. Tapi ternyata tidak. Kami harus menunggu 5 sampai 10 hari untuk memastikan bahwa kami boleh/tidak boleh masuk wilayah Inggris. Luar biasa, saya bilang. Terlalu banyak hal yang dikorbankan untuk menyebrangi batas-batas geografis dan budaya seperti ini. Saya bersyukur orang bisa ke Inggris tanpa harus melalui visa, misalnya melalui internet atau pun pergi ke Villa Wisata di Puncak yang memilki cluster Birmingham, Thames, Victorian dan hal-hal bodoh macam itu.
Ok, fingers cross-lah untuk semua usaha ini. 
| Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Di suatu senja di musim dingin, saya dan Heni bermaksud pergi ke pantai. Lalu kami mengambil kereta A dalam rangka menuju Rockaway Park Beach. Karena tidak pernah pergi sejauh ini dari pusat Manhattan (perjalanan memakan waktu hampir 2 jam), kami merasa bahwa mungkin kami sudah tidak di New York. Tapi peta MTA mengatakan bahwa kami berada di ujung Brooklyn. Setelah naik bis, kami terjebak ke sebuah tempat yang sangat sepi, aneh, penuh dengan rumah-rumah kecil, beberapa housing projects (rumah susun), toko-toko yang telah tutup, jalanan sunyi, dan orang-orang kulit hitam yang semuanya bergaya seperti di dalam film-film Hollywood. Mungkin kami rasis, tapi kami mulai ketakutan.
Beberapa saat sebelumnya, saya jalan-jalan sendiri ke Red Hook, sebuah wilayah agak selatan Brooklyn yang menjadi pusat gudang-gudang dan industri berat. Karena proses gentrifikasi, Red Hook mulai beralih menjadi studio-studio artis dan kafe-kafe fancy. Namun di dekat jembatan layang, sedikit jauh dari tempat para artis hipster itu, Red Hook memiliki barisan housing projects yang tak lain dan tak bukan berisi imigran-imigran dari Afrika, Amerika Latin dan Karibian. Tak jauh dari Red Hook, para Brooklynite mengenal kanal Gowanus, sebuah kanal yang menjadi tempat buangan mayat, baik para penjahat maupun pejabat. Selain kedua area ini, tempat seperti Clinton Hill, Bed-Stuy dan terutama East New York di Brooklyn masih sering jadi pemberitaan di surat kabar karena kejadian penembakan atau transaksi narkoba. Bulan Maret lalu, Village Voice bahkan masih membuat laporan tentang pembunuhan seorang laki-laki di East New York yang mayatnya diletakkan di kereta belanja.
Cerita-cerita inilah yang menurut saya diangkat oleh Antoine Fuqua dalam Brooklyn Finest. Sutradara yang pernah bekerjasama dengan aktor peraih Oscar, Denzel Washington (dalam film Training Day) ini kembali bekerja sama dengan aktor-aktor kelas kakap yang mampu membawakan karakter sulit, macam Ethan Hawke, Richard Gere dan Wesley Snipes. Film ini bukanlah film besar macam Inception yang terlalu pretensius itu. Film ini bisa dibilang film yang biasa-biasa saja dengan budget moderat (sebuah kelangkaan di Hollywood), yang terpaku pada skenario dan konvensi genre yang kuat. Sebagai film drama kriminal, karakter-karakter film ini tidaklah luar biasa aneh. Menyorot kehidupan tiga polisi New York (NYPD), film ini menampilkan karakter tiga polisi yang terjebak dalam situasi-situasi sulit.
Richard Gere berperan sebagai Eddie, polisi senior yang akan segera pensiun dalam tempo tujuh hari namun dihadapkan pada tugas mentoring polisi-polisi muda yang sulit. Ia cerai dengan istrinya dan hendak menembakkan pistol ke mulutnya --di awal adegan. Bukan isyarat yang menyenangkan. Karakter kedua bernama Sal, yang dimainkan secara luar biasa oleh Ethan Hawke, seorang polisi keturunan Italia yang terjebak dalam persoalan melodrama keluarga yang buruk: anaknya tujuh, istrinya tengah hamil anak kembar dan rumahnya terlalu sempit untuk semua itu. Belum lagi, istrinya menderita sakit pernafasan dan asthma gara-gara jamur kayu yang menggerogoti rumahnya. Sal yang depresif mencoba mengumpulkan uang dari uang-uang bandar yang disatroninya guna membayar DP rumah. Karakter ketiga adalah polisi yang menyamar, berkulit hitam, bernama Tango yang memiliki masalah dengan istrinya, bosnya dan temannya sesama kulit hitam yang jadi bandar narkoba.
Karakter-karakter ini tampaknya menjadi pakem bagi genre film kriminal namun sutradara mampu menerjemahkannya dalam penampilan aktor-aktor yang luar biasa dan unsur-unsur seks-kekerasan-narkoba yang mungkin over-the-top. Kita tidak bisa menghindarkan diri dari cap yang lekat pada film-film macam ini (sebut Scarface), yakni glorifikasi kekejaman, senjata dan kekerasan. Namun bagi saya, Fuqua masih saja mampu menyajikan keterampilan dan kecerdasannya dalam mengemas narasi-narasi kecil para karakter. Seperti yang disebut Roger Ebert, hal paling bagus dalam film ini adalah adegan-adegan solo masing-masing karakter dan saya tidak bisa tidak harus setuju karena memang begitulah adanya.
Pergulatan diri, pergumulan soal moral, soal makna hidup, bahkan soal rasisme muncul dalam tindak-tindak personal yang dilakukan karakter-karakter polisi ini (bukan hal kebetulan kan bahwa polisi Italia/Irish dan kulit hitam berakhir dengan malang?). Kadang justru adegan-adegan kecil dan tampak tidak berartilah yang membantu film ini secara keseluruhan. Sangat kelihatan bahwa duo penulis skenario, Michael C. Martin dan Brad Caleb Kane cukup menguasai ketrampilan pembabakan a la Hollywood.
Mungkin hal baik lain selain soal adegan-adegan solo adalah bahwa film ini tidak menghadirkan ekspektasi apapun di kepala saya. Setelah merasa sedikit muak dengan Inception, saya menemukan bahwa mungkin film-film seperti inilah yang 'menyelamatkan' muka mesin naratif Hollywood dari mesin publikasi dan jaringan sosial yang sudah melampaui seni film itu sendiri.
Day 1 Hari Rabu minggu lalu saya berangkat ke Ho Chi Minh City (HCMC) di Vietnam untuk mengikuti Southeast Asian Cinema Conference atau konferensi sinema Asia Tenggara. Ini merupakan keikutsertaan saya yang kedua, setelah yang pertama di tahun 2007 di Jakarta. Saya berangkat dari Jakarta bareng Intan, mas Ekky, Dede dan mbak Prima. Tito sudah berangkat duluan.
Ini merupakan kali pertama saya datang ke HCMC dan untuk pertama kalinya naik pesawat Airasia. Sebelum berangkat saya sudah baca Lonely Planet, Wikitravel and buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia (karya Sigit Susanto), jadi secara teoritis sudah siap. Kami sampai HCMC hampir jam Sembilan setelah pesawat sempat goyah parah karena cuaca buruk. Bandara Tan Son Nhat adalah sebuah bandara yang cukup modern, dengan proses visa yang cepat. Di tengah gerimis yang melanda kota HCMC, kami menyewa taksi (300,000 dong/2 mobil yang artinya sekitar 150,000 IDR/mobil) menuju hotel A&Em di jalan Ly Tu Trong di distrik satu/pusat kota.
Saya sudah booking satu kamar standar untuk berdua yang sedianya akan ditinggali bersama mbak Deri yang sekarang kuliah di Australian National University. Karena kesalahpahaman atau karena bahasa (orang Vietnam sedikit berbahasa Inggris, kecuali yang sudah diaspora) sehingga kami mendapatkan kamar VIP dengan harga USD45 (harga aslinya USD60). Karena sudah capek dan malas berargumentasi, kami menempati kamar dengan interior ala baroque lengkap dengan lukisan salinan abad pertengahan dengan bingkai macam di museum Louvre. Saya senang sekali sebenarnya karena dengan uang segitu, saya nggak mungkin dapat hotel sebagus ini di luar Vietnam.
Ketika kami datang, Thomas, Gaik dan David sudah di lobi, baru aja makan. Lalu kami makan dengan mereka di warung pinggir jalan dengan kursi plastik kecil-kecil macam untuk anak-anak. Kami makan Ipho (temannya Iphone?). Ipho adalah makanan khas Vietnam, berisi mie, bakso,daging dan taoge, dengan tambahan irisan cabe. Super lezat! David beli bir dengan merek seperti 333 (paling terkenal di Vietnam agaknya, harga sekitar 15-20,000 dong), Tiger atau Zorok (8500 dong). Lalu kita nongkrong di café di ujung jalan Ly Tu Trong hingga café tutup.
Day 2 Tidak sempat sarapan karena saya mesti membantu registrasi konferensi. Konferensi dimulai dengan presentasi Adam Knee tentang tren studi sinema Asia Tenggara. Tidak terlalu bisa mengikuti karena sibuk dengan administrasi. Panel pertama tentang “representasi sejarah dalam sinema” berlangsung cukup menarik. Pembahas pertama, Liew Kai Khiun bicara tentang sejarah dalam sinema kontemporer Thailand, terutama dalam hubungannya dengan kerajaan Thailand. Pembahasan kedua dari Delfin Tolentino, Jr., adalah mengenai film-film Raya Martin, terutama diskursus kolonial-post-kolonial. Lalu David (Teh) yang mengajukan konsep parergon (neither inside nor outside) mengenai video dan film di Asia Tenggara, terutama dalam kasus kuratorial Unreal Asia di Festival Film Oberhausen. Presentasi terakhir di sesi ini dari JP Manzanilla tentang film horror di Filiphina.
Saat makan siang, saya ngobrol dengan Jennifer, teman lama yang pernah datang ke IKJ dan nanti akan presentasi mewakili kampusnya, Universite Paris-Sorbonne. Saya menyempatkan diri membeli es kopi Vietnam di café di ujung Ly Tu Trong yang super duper juara. Kembali ke sesi konferensi. Sesi siang dibuka oleh mas Ekky yang presentasi tentang wayang kulit dan sejarah pre-sinema. Nadi mempresentasikan tulisannya tentang early traveling cinema di Asia Tenggara, dengan gambar-gambar/ilustrasi menarik tentang pemutaran-pemutaran film di Indonesia dan Malaysia di awal abad 19. Charles Leary dari ARI-NUS bicara tentang Federasi Produser Film Asia Pasifik yang kerap menyelenggarakan festival film Asia Pasifik, lalu Thomas presentasi tentang co-production film-film low-bro Indonesia dan asing di tahun 1970-an dan 1980-an.
Sesi sore didedikasikan untuk panel produser yang menghadirkan Dede, Nguyen Nhu Khue, Anderson Le dan Irene Trinh. Panelnya cukup menarik kecuali adanya ‘insert’ presentasi dari Sekolah Ilmu Sosial dan Kemanusiaan Hanoi (dibiayai Ford Foundation) yang tidak tahu gimana bisa masuk sesi ini. Pertanyaan banyak ke produser Vietnam. Untung film Hullahoop Soundings (Edwin) diputar.
Malamnya, grup Indonesia dan Thailand (serta dayang-dayang Australianya:Thomas dan David) pergi ke Sàn Art. Mungkin ini hanya kebetulan yang aneh. Artis yang sedang pameran di sana adalah Ise/Roslisham Ismail (Malaysia) yang sering nongkrong di ruru. Terus setelah ngobrol dengan salah satu co-founder art-space ini, Tiffany, ternyata dia adalah temannya teman saya di NYC. Terus saya baru baca email dari iCI (sekolah kuratorial di NYC) bahwa Zoe Butt, curator-in-residence art-space ini akan memberi kuliah di iCI. Dunia begitu sempit.
Sàn Art tidak lebih besar dari ruru. Mungkin bisa dibilang, galerinya sangat kecil. Namun setelah membaca webnya, saya jadi terheran-heran. Bagaimana mungkin art-space sekecil ini bisa membawa artis dan pameran ke Tate Modern dan beberapa galeri bergengsi di NYC? Mervin, teman Manila saya bilang, beberapa pendirinya banyak berbasis di NYC. Ohhh, that contemporary artist!
Setelah itu, saya, Intan dan John pergi ke Tandoor Bistro (6 Hai Ba Trung, district 1) di dekat gedung Opera untuk makan malam presenter konferensi. Tempatnya bagus, tapi pelayanannya lama. Setelah itu, grup Thailand dan Indonesia pergi ke sungai. Kalau tidak salah, namanya Dam Sen Water Park. Ngobrol-ngobrol sambil minum bir di depan dermaga melihat kota Ho Chi Minh beserta lampu-lampunya.
Hampir tengah malam, teman-teman pulang, tapi saya, May, Chalida dan David jalan kaki lewat pasar malam Ben Thanh. David beli es tebu, saya dan May beli springrolls seharga 5,000 dong/each berisi sayuran, udang dan slice daging. Kami pulang dan makan spring rolls di kamar May.
Day 3 Saya bangun kesiangan dan segera berlari ke tempat konferensi untuk mendengarkan sesi sinema dan diaspora Asia Tenggara. Presentasi diisi analisis dan soal film-film pekerja imigran Filiphina. Presentasi yang cukup menarik. Sesi kedua soal digital dan cinephilia dengan presentasi tentang cinephilia di Filiphina, peran ICT di sinema digital Filiphina dan alternative screen culture di Malaysia. Belum kelar, David dan May ngajak kabur ke Ben Thanh market. Kami mencoba es kelapa dan es cendol Vietnam dengan kisaran harga antara 10,000-20,000 dong. Lalu jalan-jalan melihat barang-barang. Ben Thanh adalah pasar segala macam untuk para turis. Ada baju, bunga, makanan, emas, souvenir, sandal, perhiasan hingga kuil yang terletak di atas. Kami mendaki tangga kecil yang tersembunyi dan melihat pasar dari atas. Setelah puas, kami makan siang dengan menu mie, dengan berbagai variasi (sangat tidak mungkin untuk mengeja tulisan Vietnam). Saya baru melihat dan merasakan pancake Vietnam yang super enak, dengan isi berupa taoge, irisan bawang Bombay dan produk laut.
Setelah itu, saya dan David beli kopi, kemudian bareng-bareng kembali ke tempat konferensi. Saya masuk sesi sore dengan pembahasan genre, dengan presentasi tunggal tentang sinema anak-anak (kiddie movie) dari Tito. Setelah itu ada pemutaran film-film pendek, di antaranya dari Thailand, Filiphina dan Vietnam. Juaranya Vietnam, sebuah film pendek tentang pelacur dan pacarnya.
Malamnya bareng grup Gaik dan Mervin serta grup Indonesia pergi ke restoran Quan An Hue (52 Hai Ba Trung) yang khusus menyajikan makanan Vietnam tengah. Sedikit mahal, restoran ini menyajikan makanan yang tak kalah lezatnya. Harga di restoran fancy ini sebagai berikut: nasi dan makanan berat berharga minimal 75,000 dong, minuman jus 20,000 ke atas, the 5,000 dong, pancake 45,000 dong (bandingkan dengan harga di jalan, 10,000 dong). Setelah itu kami mencari bar untuk nonton sepakbola. Pergilah kami ke Vasco yang mirip Bremmer di Kemang (74 Hai Ba Trung), dan ternyata penuh. Lalu saya, Gaik, Thomas, mas Ekky bertemu May dan David di bar Phacaran di ujung gedung Opera untuk nonton pertandingan Belanda-Brazil. Brazil kalah!
Day 4 Seperti biasa, datang pagi-pagi tanpa sarapan untuk mendengarkan presentasi tentang seksualitas dan gender di sinema Asia Tenggara. Brett Farmer bicara tentaqng sinema kontemporer Thailand dan vernacular queerness/modernism. Presentasi yang menarik dan membuat saya berpikir. Presentasi kedua dari Ferdinand M. Lopez tentang gay Manila di tahun 1970-an dalam film City After Dark (Ishmael Bernal), juga menarik. Saya dan Ferdinand sama-sama berpendapat bahwa Imelda Marcos adalah sangat queer. Presentasi ketiga tentang kategori film feminis dalam Festival Film Metro Manila yang menurut saya biasa aja.
Sesi kedua diisi oleh presentasi tentang representasi perempuan dalam film sejarah di Thailand dan Indonesia oleh Wan Aida, yang yah…gitu deh. Terus kedua dari Intan tentang MFI dan UU Film di Indonesia yang menarik. Lalu Andrew Ng bicara tentang self-censorship di Singapura, lalu Ramon Lobato tentang pembajakan film di Asia Tenggara.
Setelah makan siang, grup Indonesia kabur untuk mencari toko poster bernama Dogma. Sempat salah jalan, tapi akhirnya bertemu dan pada tidak jadi beli karena terlalu mahal (1 poster propaganda Komunis dihargai lebih dari USD30). Lalu kami beli kaos-kaos di daerah turis di district 1 dan kembali untuk menonton film Sherman Ong dan Pepe Diokno. Sorenya kami nonton film Vietnam di bioskop komersial Dongda Cinema di district 7. Filmnya berjudul Fools of Love (bersubtitle Inggris), bercerita tentang seorang laki-laki ganteng dan miskin (dimainkan Justin Nguyen, 21 Jumpstreet) yang mencintai seorang perempuan cantikkkk sekali yang pengen jadi penyanyi. Cinta pun terhalang orang kaya yang menjadi sponsor karir si gadis, maupun seorang gay patah hati yang sangat baik, yang jadi bos sang laki-laki ganteng. Ceritanya sangat Hollywood dan penggarapan visualnya pun demikian. Namun film ini sangat bagus dari segi komersial. Terlihat bahwa pembuat filmnya sangat menguasai story telling dan terutama, mantra produksi sempurna Hollywood. Harga tiket 50,000 dong. Habis itu kami jalan kaki di sepanjang jalan Tran Hung Dao dan makan di Lien Thai Tra Gia yang mengingatkan pada restoran-restoran China di Mangga Besar atau Bakmi Gang Mangga di Petak Sembilan. Total kerusakan 530,000 dong untuk 10 orang.
Saya, Kak Yati, Thomas, Nadi dan mas Ekky pergi ke lapangan di dekat gereja Notre Dame untuk menonton Piala Dunia. Castrol bikin acara nonton bareng yang dipenuhi penduduk HCMC yang duduk dengan rapi di kursi-kursi plastik berwarna merah. Ketika Jerman sudah mencapai angka 3-0 melawan Argentina, sebagian besar orang sudah pergi. Rupanya mereka adalah fans Argentina. Jagoan saya kalah lagi dan saya pulang ke hotel dengan lemas.
Day 4 Jennifer presentasi di sesi pagi tentang film The Perfumed Nightmare dan Fredric Jameson. Nah, ini dia presentasi yang cukup berbeda. Sesi kedua saya yang presentsai bersama Natalie dari Universitas Zurich yang bicara tentang teori sinema Thailand, dan William yang presentasi tentang film-film Pen-Ek Ratanaruang. Saya sebenarnya tidak terlalu siap untuk presentasi. Satu hari sebelum presentsi bahkan saya menyesali diri dengan mengambil tema yang belum terlalu matang, yakni soal teknologi sinema dan OK. Video.
Saya nggak tau deh gimana presentasinya tapi setidaknya saya melakukannya. Dalam sesi saya ada beberapa pertanyaan tentang teori. Salah satunya adalah soal bagaimana menemukan teori sinema yang khas Asia Tenggara dan bukan teori/perspektif sinema Barat. Saya benar-benar speechless. Saya tau kalau Robert Stam dan istrinya menulis banyak artikel tentang kemungkinan-kemungkinan baru teori sinema di luar Barat, tapi saya heran dengan pertanyaan tentang teori yang authentic, authentic Indonesia, authentic Thailand. Menurut saya, authenticity hanyalah ilusi kaum orientalis sebelum post-modernisme ditemukan.
Mungkin saya sedikit emosional dengan jawaban pertanyaan ini (alas an buruk: saya masih muda). Namun saya bingung juga dengan pertanyaan tentang usaha teoritisasi sinema Asia Tenggara yang sudah dilakukan. Pertanyaan itu mengganggu saya sebagai peneliti di Indonesia. Mengapa saya tidak boleh menggunakan perspektif Barat? Mengapa hanya Barat yang boleh menggunakan perspektif Barat? Kenapa kita harus menggunakan ‘perspektif kita sendiri’ yang sejauh ini tidak pernah ditanamkan di dunia pendidikan kita? Adakah sesuatu yang benar-benar Barat dan benar-benar authentic? Di luar saya ngobrol dengan Katinka dan David soal ini. Terus-terang saja, saya agak tersinggung dengan pernyataan bahwa peneliti Asia Tenggara harus tidak boleh menggunakan perspektif Barat, instead mereka harus menemukan perspektif Asia Tenggara. Perspektif Asia Tenggara macam apa, maksud lo?
Sesi siang, kami ngabur ke pasar lagi, belanja oleh-oleh kalau tidak salah. Lalu kembali pas sesi film makers dengan Sherman Ong, Pepe Diokno dan sutradara-sutradara Vietnam, salah satunya sutradara film Fools of Love. Saya begitu excited pengen minta foto hehehehe. Dapat deh. Konferensi ditutup dengan pemutaran film, termasuk film-film Indonesia (Full Moon dan Indonesia Bukan Negara Islam) serta satu film Vietnam yang sangat amat bagusnya tentang tukang becak yang membawa mayat. Saya jadi ingat Ucu dan film Death in Jakarta.
Usai acara, maksud hati pengen nonton wayang air, eh, ada rapat penyelenggara bareng Gaik, Katinka, Mariam, Mervin dan Dean. Setelah itu, ikut grup Filiphina dan Vietnam makan di restoran khas Vietnam bernama Hoang Yen (7 Ngo Duc Ke) dengan makanannya yang tak tertandingi (best meal ever). Letaknya agak di gang tapi makanannya benar-benar worth to try. Setelah itu, saya, Mariam dan Sherman menyusul Mervin dan Chuong-Dai ke tempat es krim. Tapi belum sampai ke sana, kami bertemu grup Thailand yang dipimpin May di tempat DVD bajakan. Bencana keuangan dimulai. May dan cowok-cowok Thailand (Big, dan teman-temannya) melihat DVD film-film propaganda komunis di salah satu toko. Sherman sudah tekun dengan film-film boxset macam dari Godard, Antonioni, Fellini dan lain-lain yang berharga mulai dari 92,000 dong (bisa berisi 10-20 film). Benar-benar luar biasa! Sangat susah untuk pergi.
Maka kami menghabiskan waktu dua jaman untuk nongkrong di toko-toko DVD di sepanjang jalan Huynh Thuc Khang. Setelah Sherman memborong boxset film-film art house Eropa, saya dan grup Thailand bahagia dengan DVD-DVD film propaganda hitam putih berharga 45,000 (tanpa subtitle), kami pergi ke tempat eskrim bernama Fanny di 29-31 Ton That Thiep. Es krim yang lezattt! Setelah toko ditutup, kami jalan pulang ke hotel.
Day 5 Pagi-pagi grup Indonesia dan Thailand ke Reunification Palace, sementara mas Ekky dan Nadi pergi ke Revolutionary Museum. Di Istana yang pernah jadi Istana Negara ini, kami melihat bangunan dan ruang-ruang Paman Ho Chi Minh lengkap dengan foto-foto perang dan perjuangan. Ada pemutaran film propaganda serangan Amerika juga. Istana pun memiliki ruang pemutaran lengkap dengan proyektor 35mm.
Setelah itu, bareng kak Yati, grup Indonesia makan siang di Com Nieu Sai Gon di 6C Tu Xuong untuk makan makanan Vietnam yang lain lagi. Di sana kami ketemu Mariam dan Lan Duong. Yaampun, kayak nggak ada tempat lain lagi di dunia. Grup Thailand pergi ke pasar Ben Thahn, melakukan kegiatan yang ternyata juga khas Thailand:belanja. Sorenya saya dan Intan beli oleh-oleh lagi dan wine, lalu ke hotel. Saya, mas Ekky dan Intan pulang ke Indonesia via Airasia. Kak Yati mesti ke Hanoi. Mbak Prima dan Dede sudah cabut dari hari ketiga. Tito sudah pulang duluan, namun berpesan, sebaiknya tahun depan ada konferensi lagi dan tempatnya di Vietnam. We love Vietnam, apparently!
1. Im Winter ein Jahr Akhir-akhir ini saya jarang suka feature film, kecuali buatan Hollywood. Tapi saya suka film ini. Januari lalu, film ini diputar di The Museum of Modern Art dan saya tahu mengapa. It’s not only German upper class tale –which is rarely portrayed in screen—but also an artist’s effort trying to capture the loneliness of the late capitalist- subject. Terrific.
2. Les Plages d’Agnes Film ini selalu mengingatkan saya pada sebuah kota miskin di tengah Perancis, yang hingga kini menjadi basis gerakan Komunis dan memiliki sebuah bioskop art-house dengan hadirin yang mengenal satu sama lain dan menganggap Agnes Varda sebagai nenek mereka. Saya selalu suka Agnes. Dialah perempuan paling keren dalam sejarah sinema nouvelle vague Prancis –lebih dari Anna Karina. Film otobiografinya ini sangat lucu dan menyenangkan –tak menyebut sosok Agnes sendiri yang begitu ringan memperlihatkan diri.
3. All My Failed Attempts Tan Chui Mui kadang dituduh sebagai sutradara yang terlalu dipuji atau karyanya terlalu dibesar-besarkan. Namun demikian, saya tak pernah berhenti menyukai film-filmnya. Contohnya kompilasi film pendeknya ini. Meski tidak semuanya cukup menyenangkan, tapi film Everyday, Everyday membuat saya ingin pergi ke Peru –atau Burkina Faso.
4. Like. Real.Love+Graceland Anocha Suwichakornpong adalah sutradara muda perempuan paling berbakat yang dimiliki Thailand saat ini. Feature pertamanya, Mundane History, baru saja menang di Rotterdam. Dua film pendek ini dibuatnya tahun lalu dan telah diputar di Sundance dan Cannes. Favorit saya adalah adegan buruh tekstil dan perasaan pergi dari Bangkok.
5. The Sari Soldiers Menjadi perempuan dan tentara gerilyawan Mao adalah dua hal yang tampaknya keren –serta romantik. The Sari Soldiers mengungkapkan hal yang sebenarnya. 6. Aku dan Indramayu Kadang saya malas membahas framing, lighting dan sinematografi, dan cenderung melihat film/video sebagai saksi atas banyak hal buruk yang telah terjadi. Aku dan Indramayu adalah film/video yang mampu melampaui tujuan pembuatannya dan mengetengahkan apa yang selama ini tak terlihat oleh media mainstream tentang remaja –remaja di Indramayu.
7. Perempuan dan Syariat Islam Saya baru mendengar bahwa Syariat Islam hanyalah isu politik yang diluncurkan oleh orang-orang berkuasa untuk membuat masyarakat bodoh. Tapi kadang saya percaya, ada begitu banyak hal kompleks –dan jenaka, di balik sesuatu yang sederhana. Kompilasi ini menyajikan suara yang selama ini hanya menjadi keluhan.
| Start: | Apr 21, '10 | | End: | Apr 27, '10 | | Location: | Salihara, Kineforum, dan GoetheHaus |
Film Festival adalah festival perempuan yang digagas oleh empat lembaga di Jakarta, yakni Komunitas Salihara, Kalyana Shira Foundation, Kartini Asia Network dan Yayasan Jurnal Perempuan pada akhir tahun 2008.V Film Festival memberikan ruang bagi film-film yang disutradarai perempuan dan tentang perempuan untuk bertemu dengan audiensnya. Festival akan diselenggarakan di GoetheHaus, Kineforum dan Komunitas Salihara, pada tanggal 21-17 April 2010. Acara bersifat gratis. Jadwal bisa dilihat di http://vfilmfestival.blogspot.comDISKUSI / DISCUSSION Kamis, 22 April 2010, 4PM @Serambi Salihara Thursday, April 22, 2010, 4PM @Serambi Salihara FILM, TUBUH PEREMPUAN, DAN SENSOR FILM, WOMEN’S BODIES, AND THE CENSOR Pembicara: Novi Kurnia dan Intan Paramaditha Moderator: Veronika Kusumaryati Open to the public & FREE ADMISSION Berbicara tentang sensor dalam dunia film, maka mayoritas aspek yang ”digunting” adalah tema atau gambar tubuh perempuan. Salah satu contoh: film dokumenter karya Ucu Agustin, Perempuan: Kisah di Balik Guntingan (Kalyana Shira, 2008), menampilkan adegan-adegan penyensoran dalam Perempuan Punya Cerita (Kalyana Shira, 2008). Penyensoran itu menggunakan dalih moralitas, adat, karakter bangsa, dan agama. Mengapa tubuh perempuan sering menjadi sasaran sensor dalam film? Ada apa dengan tubuh perempuan? Ikuti diskusinya bersama Novi Kurnia, dosen Jurusan Komunikasi Fisipol UGM dan mahasiswa doktoral di Department of Women’s Studies, Flinders University, Australia dan Intan Paramaditha, mahasiswa doktoral di departemen Cinema Studies, New York University, Amerika Serikat. Diskusi akan dipandu oleh Veronika Kusumaryati, pengaji dan kurator film. Acara ini adalah bagian dari V Film Festival dan disponsori oleh Hivos.
hujan menderas di luar, di atas pohon-pohon, di atas atap-atap bangunan beton dan aku memandangnya dari kaca-kaca busway yang gelap. Lagu-lagu melankolis dari radio terdengar melengkapi adegan sinema ini. aku baru pulang dari nonton film shutter island di plaza indonesia dan semua hal tampaknya mengingatkanku padamu. padamu yang bajingan hahaha.
beberapa hari yang lalu widya datang ke rumah dan dia bilang, aku tidak punya kopi. aku tidak percaya. aku selalu punya kopi, berbagai jenis kopi. kita pernah berburu kopi di seantero jakarta. saat itu, belum ada twitter sehingga aku masih bisa melihat wajahmu sumringah melihat toples-toples kopi di pasar gondangdia. aku harus membeli kopi, kataku hari itu tetapi hingga hari ini aku tidak membeli kopi, kecuali kopi banci. kau tidak banci sehingga semua perempuan mencintaimu.
kau tidak punya facebook dan itu menjelaskan banyak hal. seperti biasa, aku membuka hari dengan melihat genting-genting di luar dan membuka komputer putih dengan tulisan-tulisan menu yang bahkan terlalu kecil untuk jadi huruf. di facebook sedang berlangsung perdebatan tentangmu. bukan karena kamu lebih terkenal daripada yang lain, tetapi karena ulahmu yang mengingatkanku pada film shutter island. aksen bicaramu seperti leonardo dicaprio, bahkan ketika kamu nggak berasal dari boston.
padahal aku berharap kamu adalah connor dalam film fish tank. kamu seorang bajingan. bagaimana mungkin kamu tidak menjadi connor? tahun lalu aku mengambil sebuah kuliah tentang film propaganda Jerman. lalu guruku, seorang novelis terkenal, bicara soal keindahan dan kesetanan. menurutnya, dalam kasus film-film leni riefenstahl kita tidak lagi memisahkan kesetanan dan keindahan. dua hal itu selalu menyatu. kupikir itu yang terjadi pada sosok connor dan lalu kamu. kamu terlalu cute untuk jadi bajingan, but who cares?
lalu aku menulis sesuatu di twitter --kamu juga tidak punya twitter. dan temanku berkata, ohh...it's too gloomy. it is. mungkin kamu sedang berdiri di depan jendela apartemenmu, melihat jadwal perjalananmu dan berkata, seperti emailmu dua minggu yang lalu, 'we might cross path somewhere'. i wish not.
BEST MOTION PICTURE OF THE YEAR Winner: The Hurt Locker (2008) - Kathryn Bigelow, Mark Boal, Nicolas Chartier, Greg Shapiro [Good for:Indie-filmmaking, characters-driven film]
BEST ACHIEVEMENT IN DIRECTING Winner: Kathryn Bigelow for The Hurt Locker (2008) [First female director in 82 years !]
BEST PERFORMANCE BY AN ACTRESS IN A LEADING ROLE Winner: Sandra Bullock for The Blind Side (2009) [whatttt???? Carrey Mulligan should win]
BEST PERFORMANCE BY AN ACTOR IN A LEADING ROLE Winner: Jeff Bridges for Crazy Heart (2009) [well, ok.....]
BEST FOREIGN LANGUAGE FILM OF THE YEAR Winner: El secreto de sus ojos (2009)(Argentina) [what the fuck???! Das Weisse Band is the best]
BEST ACHIEVEMENT IN EDITING Winner: The Hurt Locker (2008) - Bob Murawski, Chris Innis [deserved]
BEST DOCUMENTARY, FEATURES Winner: The Cove (2009) - Louie Psihoyos, Fisher Stevens [I have not yet watched, but Burma VJ is good also]
BEST ACHIEVEMENT IN VISUAL EFFECTS Winner: Avatar (2009) - Joe Letteri, Stephen Rosenbaum, Richard Baneham, Andy Jones [expected]
BEST ACHIEVEMENT IN MUSIC WRITTEN FOR MOTION PICTURES, ORIGINAL SCORE Winner: Up (2009) - Michael Giacchino [no complain]
BEST ACHIEVEMENT IN CINEMATOGRAPHY Winner: Avatar (2009) - Mauro Fiore [expected]
BEST ACHIEVEMENT IN SOUND MIXING Winner: The Hurt Locker (2008) - Paul N.J. Ottosson, Ray Beckett [deserved]
BEST ACHIEVEMENT IN SOUND EDITING Winner: The Hurt Locker (2008) - Paul N.J. Ottosson [deserved]
BEST ACHIEVEMENT IN COSTUME DESIGN Winner: The Young Victoria (2009) - Sandy Powell [Tom Ford must be in the crown!]
BEST ACHIEVEMENT IN ART DIRECTION Winner: Avatar (2009) - Rick Carter, Robert Stromberg, Kim Sinclair [expected]
BEST PERFORMANCE BY AN ACTRESS IN A SUPPORTING ROLE Winner: Mo'Nique for Precious: Based on the Novel Push by Sapphire (2009) [expected and deserved]
BEST WRITING, SCREENPLAY BASED ON MATERIAL PREVIOUSLY PRODUCED OR PUBLISHED Winner: Precious: Based on the Novel Push by Sapphire (2009) - Geoffrey Fletcher [no opinion. Up in the Air is OK]
BEST ACHIEVEMENT IN MAKEUP Winner: Star Trek (2009) - Barney Burman, Mindy Hall, Joel Harlow [no idea]
BEST SHORT FILM, LIVE ACTION Winner: The New Tenants (2009) - Joachim Back, Tivi Magnusson [no idea]
BEST DOCUMENTARY, SHORT SUBJECTS Winner: Music by Prudence (2010) - Roger Ross Williams, Elinor Burkett [no idea]
BEST SHORT FILM, ANIMATED Winner: Logorama (2009) - Nicolas Schmerkin [no idea]
BEST WRITING, SCREENPLAY WRITTEN DIRECTLY FOR THE SCREEN Winner: The Hurt Locker (2008) - Mark Boal [In the Loop is better, noh?]
BEST ACHIEVEMENT IN MUSIC WRITTEN FOR MOTION PICTURES, ORIGINAL SONG Winner: Crazy Heart (2009) - T-Bone Burnett, Ryan Bingham("The Weary Kind") [Ok...]
BEST ANIMATED FEATURE FILM OF THE YEAR Winner: Up (2009) - Pete Docter [expected, deserved]
BEST PERFORMANCE BY AN ACTOR IN A SUPPORTING ROLE Winner: Christoph Waltz for Inglourious Basterds (2009) [Best choice]
Sorry, I am so anti-James Cameron lol
| |